Apa Beda Hari Raya Nyepi di Indonesia dan Negara Mayoritas Hindu Lainnya?

Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali/Foto : Dok. Pemkab Buleleng Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali/Foto : Dok. Pemkab Buleleng

Jakarta, GPriority.co.id – Hari Raya Nyepi 2026 di Indonesia jatuh pada Kamis (19/3), mengikuti kalender Saka yang digunakan oleh umat Hindu Bali.

Perayaan ini dikenal sebagai “Hari Raya Nyepi” atau “Day of Silence” dan memiliki ciri khas di Indonesia, yang tidak ditemukan di negara lain dengan populasi Hindu besar.

Dilansir dari laman Wikipedia, di Indonesia, khususnya Bali, Nyepi dirayakan dengan menerapkan empat pantangan utama yang disebut Catur Brata Penyepian. Keempatnya meliputi tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).

Selama Nyepi, seluruh aktivitas di Bali berhenti total, termasuk operasional bandara internasional. Jalanan menjadi kosong, lampu dipadamkan, dan masyarakat menjalani hari dengan meditasi serta refleksi diri.

Tradisi unik lainnya adalah pawai ogoh-ogoh yang digelar sehari sebelum Nyepi. Patung raksasa ini melambangkan unsur negatif yang kemudian “dibersihkan” menjelang hari suci.

Sementara perayaan Nyepi di India dan Nepal, memiliki perbedaan dengan di Indonesia. Dilansir dari WIO News, umat Hindu di India tidak merayakan Nyepi sebagai hari raya utama. Di India, kalender Hindu lebih menitikberatkan pada perayaan seperti Diwali dan Holi.

Meski konsep tahun baru Hindu juga ada, perayaannya dilakukan dengan cara yang lebih meriah, seperti berkumpul bersama keluarga, berdoa di kuil, dan mengadakan festival budaya. Tidak ada tradisi hening total seperti di Bali.

Sementara itu di Nepal, umat Hindu merayakan tahun baru dengan festival seperti Navavarsha. Perayaan ini juga diwarnai kegiatan sosial dan keagamaan, tanpa pembatasan aktivitas masyarakat secara menyeluruh.

Perbedaan perayaan Hari Raya Nyepi 2026 antara Indonesia dan negara Hindu lainnya dipengaruhi oleh faktor budaya lokal. Di Bali, ajaran Hindu berkembang dengan integrasi kuat terhadap tradisi dan adat setempat.

Konsep keseimbangan alam (Tri Hita Karana) menjadi dasar pelaksanaan Nyepi, yang tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga berdampak pada lingkungan. Penurunan polusi udara selama Nyepi bahkan telah diakui dalam berbagai penelitian internasional.

Sebaliknya, di India dan Nepal, praktik keagamaan Hindu lebih beragam dan tidak terpusat pada satu bentuk perayaan tertentu. Hal ini membuat tidak adanya tradisi seragam seperti Nyepi.

Karena keunikannya, Nyepi di Bali juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Banyak turis datang untuk menyaksikan prosesi sebelum Nyepi, lalu merasakan suasana hening yang jarang terjadi di dunia modern.

Pemerintah Indonesia melalui berbagai lembaga pariwisata juga mempromosikan Nyepi sebagai warisan budaya yang mencerminkan toleransi dan kedamaian.

Di sisi lain, perayaan Hindu di India dan Nepal lebih dikenal melalui festival besar yang penuh warna dan keramaian, yang juga menjadi daya tarik wisata tersendiri.