ARCH:ID 2026 Resmi Dibuka, Angkat Kolaborasi Lintas Disiplin dalam Arsitektur

Para penyelenggara ARCH:ID menghadiri pembukaan acara yang digelar pada Kamis, 23 April 2026, di Hall 6, ICE BSD City/Foto Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Forum dan pameran arsitektur terbesar di Indonesia, ARCH:ID, resmi dibuka pada Kamis, 23 April 2026 di Hall 6, ICE BSD City.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia bersama CIS Exhibition ini kembali menjadi wadah pertemuan para pelaku industri arsitektur, desain, dan sektor kreatif dalam skala nasional maupun internasional.

Memasuki edisi keenam, ARCH:ID mengusung tema “Skema Sintesa: Arsitektur Keterlibatan”. Tema ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam praktik arsitektur masa kini, seiring dengan semakin kompleksnya tantangan desain dan kebutuhan ruang.

Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Megawati Panjaitan, menyampaikan bahwa skala penyelenggaraan tahun ini meningkat signifikan. Sebanyak 725 booth dan lebih dari 180 peserta pameran hadir, menempati area seluas 18.000 meter persegi selama 23–26 April 2026.

Selain pameran, ARCH:ID 2026 juga menghadirkan International Conference dengan delapan pembicara utama, 90 sesi talk series, serta lebih dari 220 pembicara dari dalam dan luar negeri. Berbagai program unggulan turut digelar, seperti Featured Exhibitions, Business Matching, kompetisi Hackathon, hingga Best Booth Award, dengan dukungan ByoLiving sebagai strategic partner.

“ARCH:ID 2026 kali ini akan menghadirkan pengalaman pameran yang dikurasi melalui konsep Tetenger, dengan mengubah format pameran dari sekadar deretan booth menjadi rangkaian zona tematik yang saling terhubung,” kata Megawati di Jakarta, Kamis (23/4).

“Berbagai area dirancang dengan fungsi yang spesifik, seperti Tetenger Riung sebagai ruang berkumpul, Tetenger Rembuk untuk diskusi, Tetenger Teduh sebagai ruang jeda dan refleksi, Tetenger Tutur sebagai ruang narasi, serta Tetenger Siar untuk aktivitas media, yang dilengkapi pula dengan Tetenger Rehat dan Tetenger Luar,” tambahnya.

Pendekatan ini diperkuat dengan kehadiran area komunal seperti Angkringan dan Alun-alun yang menghadirkan pengalaman lebih human-centered. Seluruh elemen dirancang untuk mendorong interaksi, dialog, dan pertukaran gagasan dalam suasana yang inklusif, mengalir, dan kontekstual.

Lebih dari 60 arsitek lintas generasi terlibat dalam perancangan area pameran seluas 8.090 meter persegi melalui pendekatan kurasi kolaboratif. Kolaborasi juga meluas ke berbagai disiplin, termasuk desainer pencahayaan, desainer grafis, desainer produk, hingga arsitek lanskap, serta didukung berbagai asosiasi profesional dan menghadirkan pembicara internasional maupun nasional dalam rangkaian konferensi.