Awas Predator Seksual..!! Anak di Rumah Aman

Maraknya pemberitaan di media massa mengenai kekerasan seksual terhadap anak cukup membuat masyarakat terkejut. Secara fisik memang mungkin tidak ada hal yang harus dipermasalahkan pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual, namun secara psikis bisa menimbulkan trauma, bahkan pelampiasan dendam.

Tahun lalu, berita mengenai kekerasan terhadap anak yang cukup fenomenal terjadi di Lampung Timur. Ironisnya, korban yang ditempatkan di Rumah Aman malah menjadi sasaran predator seks sang penjaga Rumah Aman.

Juli 2020, Korban NV yang berusia 13, diperkosa penjaga (DA) saat tengah berlindung di rumah aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur. NV dikirim ayahnya ke sana karena berstatus korban pemerkosaan. Setelah diketahui bahwa DA memang melakukan pemerkosaan kepada NV, ia dinonaktifkan sebagai anggota.

Pemerintah pusat dan daerah seharusnya mengevaluasi kompetensi para petugas di rumah aman maupun staf yang bekerja di P2TP2A. Evaluasi mulai dari tahap perekrutan, kompetensi, standar operasional prosedur, hingga sarana prasarana yang tersedia. Orang-orang yang bertugas di sana semestinya bukan sembarang ASN, tetapi yang menyadari dan memahami secara benar tugas dan fungsinya sebagai representasi negara untuk melindungi korban.

Bila tidak ditangani serius, kekerasan seksual terhadap anak dapat menimbulkan dampak sosial yang luas di masyarakat. Penanganan dan penyembuhan trauma psikis akibat kekerasan seksual haruslah mendapat perhatian besar dari semua pihak yang terkait, seperti keluarga, masyarakat maupun negara.

Oleh karena itu, didalam memberikan perlindungan terhadap anak perlu adanya pendekatan sistem, yang meliputi sistem kesejahteraan sosial bagi anak-anak dan keluarga, sistem peradilan yang sesuai dengan standar internasional, dan mekanisme untuk mendorong perilaku yang tepat dalam masyarakat.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Lembaga Dinas Sosial harus mampu mensosialisasikan atau menyuarakan seluruh masyarakat agar berani menghentikan segala bentuk tindak kekerasan seksual pada anak.

Selanjutnya Dinas Sosial diharapkan dapat memberikan pendampingan terhadap korban yang bermuara pada penyembuhan mental dan psikologis anak yang mengalami trauma akibat tindak kekerasan seksual. (VIA)

Related posts