Badai Pasifik Menari di Parlemen Selandia Baru

Jakarta, GPriority.co.id – Terpaan badai pasifik masih kuat menembus dinding – dinding ruang gedung parlemen Selandia Baru (New Zealand), yang kokoh dan kuat bak membungkam mulut suku asli selandia baru untuk bersuara.

Hana-Rawhiti Maipi-Clarke, anggota parlemen Selandia Baru dari Te Pati Maori, tak kepalang akal, Ia menari Haka sebagai bentuk protes terhadap rancangan undang-undang (RUU) kontroversial dalam sidang yang digelar pada Kamis (14/11) lalu.

Dilansir dari berbagai sumber (17/11), bahwa RUU yang diusulkan Partai Libertarian Act, memuat perubahan penafsiran undang-undang perjanjian Selandia Baru antara suku Maori dengan Kerajaan Inggris.

Aturan kontroversial itu dinilai berpotensi mengancam hak-hak Suku Maori di Selandia Baru karena menghapus prinsip-prinsip penting yang tertuang dalam perjanjian Waitangi- perjanjian yang ditandatangani 184 tahun lalu antara lebih dari 500 kepala suku Maori dan Inggris.

Di tengah gerakan tarian dan nyanyian yang sangat magis itu, Maipi-Clarke juga merobek salinan RUU tersebut. Sikap lantang seperti badai pasifik yang mengamuk tak mengenal waktu, mendapat dukungan masyarakat luas.

RUU yang diusulkan Partai Libertarian Act ini pun menuai kritik keras dari masyarakat luas. Ribuan orang hkoi atau pawai protes selama sembilan hari. Demonstran ini diperkirakan tiba di parlemen pekan depan sebagai bentuk solidaritas.

Diketahui Haka adalah tarian tradisional suku Māori di Selandia Baru yang melibatkan gerakan tubuh, teriakan, nyanyian, dan ekspresi wajah yang kuat. Haka biasanya dilakukan dalam kelompok dan bertujuan untuk menyampaikan pesan atau perasaan tertentu, seperti semangat juang, peringatan, rasa hormat, atau perayaan.

Haka lebih dari sekadar tarian; itu adalah ekspresi budaya dan identitas suku Māori yang mencerminkan semangat, sejarah, dan hubungan mereka dengan alam serta leluhur.

Foto: expedia