Badai Sitokin Covid-19 jadi Sebab Kematian

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Normalnya, sitokin membantu sistem imun melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Badai sitokin terjadi ketika tubuh memproduksi sitokin secara berlebihan dan melepaskannya ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat. Hal tersebut membuat sel imun menyerang sel tubuh yang sehat. Jika itu terjadi bisa merusak organ tubuh atau bahkan sebabkan kematian.

Tak hanya penderita Covid-19, badai sitokin juga bisa menyerang orang yang dinyatakan negatif Covid-19. Seperti yang sempat dialami Youtuber Deddy Corbuzier, dalam postingan instagram @matercorbuzier, Minggu (22/08/2021). Dirinya sempat kritis selama tiga hari dan hampir meninggal karena badai sitokin.

“Tanpa gejala apapun tiba-tiba Saya masuk ke dalam badai cytokine dengan keadaan paru-paru sudah rusak 60 persen dalam dua hari,” tulisnya.

Pada penderita Covid-19, badai sitokin ini salah satu komplikasi yang menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah. Alveoli atau kantung udara kecil di paru-paru akan dipenuhi oleh cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Hal tersebutlah yang menyebabkan penderita Covid-19 mengalami sesak napas.

Untuk gejalanya, badai sitokin mengalami demam dan sesak napas, hingga membutuhkan alat batu napas atau ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar 6–7 hari setelah gejala Covid-19 muncul.

Selain demam dan sesak napas, badai sitokin juga menyebabkan berbagai gejala, seperti kedinginan atau menggigil, kelelahan, pembengkakan di tungkai, mual muntah, nyeri otot dan persendian, sakit kepala, ruam kulit, batuk, napas cepat, kejang, sulit mengendalikan gerakan, kebingungan dan halusinasi, tekanan darah sangat rendah, dan penggumpalan darah.

Penderita Covid-19 yang mengalami badai sitokin memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU). Langkah penanganan yang akan dilakukan dokter, seperti pemantauan tanda-tanda vital, yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh, secara intensif.

Selain itu juga diperlukan pemasangan mesin ventilator, pemberian cairan melalui infus, pemantauan kadar elektrolit, cuci darah (hemodialisis), dan pemberian obat anakinra atau tocilizumab (actemra) untuk menghambat aktivitas sitokin.

Badai sitokin dapat menyebabkan kerusakan organ yang bisa mengancam nyawa. Agar terhindar dari hal tersebut, disarankan untuk selalu mematuhi dan disiplin protokol kesehatan. (Dwi.foto.dok.istimewa)

Related posts