Jakarata, GPriority.co.id – BRIN bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) dan United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) menggelar Workshop Teknologi Global Navigation Satellite Systems (GNSS) selama lima hari, dimulai dari Senin-Jumat (17-21/11).
Kegiatan ini membahas peran vital satelit navigasi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemetaan, komunikasi, hingga teknologi otonom.
Direktur Sekretariat Indonesia Space Agency (INASA) BRIN, Erna Sri Adiningsih, mengatakan isu satelit navigasi jarang disorot, padahal menjadi fondasi banyak teknologi yang digunakan masyarakat sehari-hari.
“Misalnya Google Map dan sebagainya itu. Google Map yang sederhananya akan menuju ke suatu lokasi, kemudian kita melihat peta dan kita dipandu, itu semuanya mengandalkan data dari satelit navigasi. Jadi di dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan hanya soal program antareksaan yang mungkin besar dan mungkin canggih, tetapi dalam kehidupan sehari-hari ketika kita menggunakan peralatan ponsel, maka ketiga satelit itu berfungsi sekaligus,” kata Erna kepada wartawan, Senin (17/11).
Dia menambahkan, dalam pertemuan ini mereka fokus mengangkat mengenai satelit navigasi, dan itu terkait dengan lokasi dan pengaturan waktu.
Menurutnya, pertemuan ini penting karena tidak banyak negara yang memiliki kemampuan mengoperasikan satelit navigasi. Hanya beberapa operator global yang menguasai teknologi tersebut, seperti GPS milik Amerika Serikat, GLONASS dari Rusia, dan BeiDou dari China.
Workshop ini mempertemukan operator satelit navigasi internasional, lembaga antariksa, akademisi, hingga pengguna dari berbagai sektor. Para peserta berdiskusi mengenai kebutuhan pengguna, teknologi terbaru, hingga tantangan pengembangan sistem navigasi satelit.
Erna menegaskan, ketergantungan manusia pada satelit navigasi sangat besar. Kerusakan atau gangguan pada sistem tersebut dapat menghambat berbagai aktivitas vital, termasuk komunikasi, penentuan waktu, robotika, hingga pengoperasian drone dan kendaraan otonom.
“Bisa dibayangkan kalau seandainya misalnya terjadi kerusakan pada sistem satelit navigasi atau operator satelit navigasi ini menghentikan operasinya. Kita tidak bisa lagi menggunakan sebagian besar fungsi dari alat komunikasi kita. Tidak bisa. Karena waktu tidak bisa. Kemudian lokasi tidak bisa. Kita sangat tergantung pada informasi lokasi dan waktu,” jelasnya.
Selain membahas pemanfaatan data navigasi, forum ini juga membuka peluang kerja sama internasional. Indonesia, kata Erna, masih belum memiliki pengalaman membangun satelit navigasi sendiri. Karena itu, kolaborasi global menjadi langkah strategis untuk mendorong pengembangan teknologi dalam negeri.
“Nah diharapkan dari workshop ini kita tadi dari diskusi yang berlangsung selama lima hari, tidak hanya untuk bertukar pengalaman di dalam memanfaatkan data satelit navigasi atau mungkin kendala dan kemajuan-kemajuan teknologi tetapi juga kemudian bisa berlanjut kepada bagaimana kita bisa melakukan kerjasama mendatang internasional dalam berbagai hal di sisi teknologinya juga,” tuturnya.
“Karena kita Indonesia belum punya pengalaman terkait dengan teknologi satelit navigasi, belum punya kalau satelit untuk remote sensing atau pemantauan bumi kita punya kemampuan untuk membangun sendiri satelit mikro. Tapi untuk satelit navigasi kita belum pernah punya pengalaman itu, belum pernah bikin,” tambah Erna.
