Djakarta Theater, Bioskop Tertua di Jakarta dan Cerita Dibaliknya

Jakarta, GPriority.co.id – Pernahkah anda penasaran dan bertanya tentang bioskop tertua di daerah Jakarta? Ternyata Djakarta Theater lah yang menjadi jawabannya. Selain Megaria (sekarang lebih terkenal dengan nama bioskop Metropole), Djakarta Theater masuk jajaran kategori bioskop yang pertama kali berdiri di ibu kota Jakarta.

Berdiri di Jalan M.H. Thamrin No. 9 Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta, bioskop ini dibangun dari April 1969 – Juni 1970, dan diresmikan oleh pemerintah pada 22 Juni 1970, bertepatan dengan ulang tahun ibu kota Jakarta.

Ketika gubernur Jakarta dijabat oleh pak Ali Sadikin. beliau mengizinkan beroperasinya tempat judi di kota Jakarta, dan Djakarta Theater hadir untuk mengakomodir keinginan pak gubernur. Sekarang namanya adalah Djakarta XXI, dan interior dalamnya masih mempertahankan kemewahan gedung zaman dahulu.

Bioskop ini adalah hasil karya arsitek Ir. M. Amir Matsura dan Ir. J. Dijatmiko, dengan menghabiskan biaya pembangunan sebesar Rp 760 juta ditahun (1970). Kemudian pada tahun 2021, bioskop ini direnovasi dan menghabiskan dana sebesar Rp 109 milyar.

Awalnya bioskop ini hanya memiliki satu studio yang sangat besar dan menampung penonton dengan jumlah banyak, jauh lebih banyak dari bioskop lainnya di Jakarta, yaitu 1.200 hadirin dan memiliki tinggi layar 9,5 meter.

Namun saat ini bioskop Djakarta Theater sudah memiliki 2 lantai dengan 3 layar, bioskop Djakarta Theater menjadi salah satu bioskop yang masih dituju oleh para pecinta film di daerah Jakarta, ketika ingin menonton film-film yang sedang tayang di Indonesia.

Selain sebagai bioskop, ruangan di Djakarta Theater juga berfungsi sebagai auditorium dan ruang teater yang dilengkapi dengan panggung berdimensi 25 x 22 meter dan setinggi 1,2 meter dari permukaan lantai. Layout penonton saat dibuka berbentuk huruf U, dan memiliki dua balkon, satunya adalah balkon VIP dan satunya balkon proyektor.

Ternyata Djakarta Theater memiliki kisah dibalik pembangunannya. Awalnya, bioskop ini dikelola bersama-sama oleh Sarinah dan Saranaria Djaja. Tetapi karena krisis keuangan yang diderita BUMN ritel tersebut, akhirnya 100 persen kepemilikan bioskop sejak 1972-1973, diserahkan ke Saranaria Djaja.

Pada tanggal 24 Oktober 1984, Djakarta Theater mulai menyediakan ruang ritel, dengan Golden Truly menjadi penghuni kuncinya.

Di tahun 1970-1990an, adalah masa jaya dari Djakarta Theater. Saat itu bahkan Djakarta Theater juga menjadi venue untuk pagelaran festival-festival film di Indonesia. Salah satunya seperti Jakarta International Flim Festival.

Saat ini, terjadi perubahan wajah dari Djakarta Theater. Dimana beberapa tenant yang ada di ruang ritel Djakarta Theater sudah berubah, semisal Golden Truly, digantikan oleh Lotus Department Store hingga ditutup sejak 31 Oktober 2017, dan kehadiran sejumlah rumah makan, toko-toko olahraga Planet Sports Asia dan Sports Station.

Djakarta Theater saat ini disebut sebagai salah satu bioskop mewah di Jakarta, karena memiliki 11 lobi yang temboknya berlapiskan marmer asal Italia dan kolom berlapiskan marmer asli Tulungagung, dengan aksen aluminium.

Bioskop ini juga menyediakan eskalator untuk menuju balkon atas dan jembatan menuju Sarinah. Jembatan tersebut diresmikan pada 1974 tetapi rontok pada akhir Februari 1981.

Saat ini bioskop Djakarta Theater telah berubah nama menjadi Djakarta XXI, dan dikelola oleh Cinema 21.

Foto : Wikimedia Commons