Gegara Belajar di Masjid, Ilmuwan Islam Terdahulu Lebih Cerdas

Jakarta, GPriority.co.id– Peradaban Islam pernah mengalami masa kejayaan yang melahirkan ilmuwan-limuwan cerdas dunia di masa lalu. Nama-nama seperti Al Gazhali, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, hingga Al Khawarizmi adalah sederet tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Rupanya ada rahasia tersembunyi yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang mengenai kecerdasan para ilmuwan Islam zaman dulu yang amat dikagumi.

Selain belajar secara otodidak yang bahkan oleh orang zaman sekarang dianggap mustahil, cara khusus yang dilakukan para ilmuwan adalah lantaran mereka rajin pergi ke masjid.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Adi Hidayat dalam tayangan di channel Youtube pribadinya bahwa tidak ada orang di zaman dulu melainkan mereka datang ke masjid pasti mendapatkan suatu hasil yang baik.

UAH menjelaskan, bahwa Ibnu Sina atau Avi Sena yang menjadi tokoh bapak kedokteran modern berhasil menjadi dokter ketika ia baru berusia 15 tahun. Kecerdasan ini didapatkannya karena rajin mengunjungi masjid.

Tidak sekedar mendatangi masjid, Ibnu Sina juga melakukan amalan khusus, yakni sholat sunnah dua rakaat. Cara ini biasa dilakukan oleh Ibnu Sina maupun orang-orang Islam di zaman dulu tiap kali hendak mengingat sesuatu.

“Datang ke masjid sudah sangat terkenal. Kalau lupa datang ke masjid sholat dua rakaat langsung diingat apa yang sebelumnya hendak diingat.”

UAH kembali menegaskan jika orang zaman dulu datang ke masjid pasti selalu mendapatkan sesuatu. Hali ini karena kedatangan mereka ke masjid memang memiliki tujuan atau kegiatan yang begitu baik.

Selain Ibnu Sina, Imam Al Bukhari sebagai periwayat hadits-hadits juga menjadikan masjid sebagai tempat dalam mengasah ilmu sehingga bisa menjadi sangat cerdas.

Imam Bukhari dikenal sebagai penulis shahih Al bukhori yang terdiri dari 97 topik dan lebih dari 7.000 hadits. Tulisan-tulisan ini dibuatnya ketika ia berada di masjid.

Sebelum menuliskan hadits, Imam Bukhori selalu menjalankan sholat dua rakaat. Hal tersebut bahkan ia lakukan selama 16 tahun.

“Setiap kali hendak menulis hadits, Imam Bukhori sholat dua rakaat. Selesai sholat kalau merasa Allah memberitahu langsung ditulis satu hadits.”

Diawali dengan menulis di Masjidil Haram, Imam Bukhari akan menyempurnakan hadits tersebut di Masjid Nabawi.

“Jadi dimulai di masjid diakhiri di masjid. Pada zaman dulu semua orang yang datang ke masjid pulangya pasti menjadi cerdas.”

Tokoh seperti Al Gazhali, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, hingga Al Khawarizmi suka melakukan itikhaf di masjid. Begitupula dengan sahabat-sahabat nabi yang merupakan orang-orang cerdas. Bahkan Ali bin Abi Thalib juga dikenal sebagai orang yang jenius dalam matematika pada masa itu.

Oleh karena itu, UAH berkesimpulan bahwa masjid bisa menjad tempat persatuan sekaligus wadah untuk menimba ilmu. (Vn)

Related posts