Guru Besar Linguistik Forensik, Prof. Dr. Andika Dutha Bachari, S.Pd, M.Hum. SISI BENGAL SANG INTELEKTUAL


Mahasiswa muda itu tampil berorasi di depan gedung Rektorat yang dijaga aparat. Dia begitu lantang bertutur kata di tengah para mahasiswa demonstran lainnya. Yel-yel dan lagu-lagu perjuangan terus bergema.

Dia, di panggung demokrasi ambil bagian menjadi orator sambil terus memprovokasi massa mahasiswa lainnya. Di bawah terik matahari, dia tidak takut sama sekali, misal pun pentungan dihantamkan ke mulutnya. Dia tampil memukau, berteriak penuh retorika pembelaan terhadap kaum tertindas. Sikap tegas tertangkap dari ujaran-ujarannya yang jelas, menentang ketidakadilan. Dia menjadi bagian dari aksi dan saksi sejarah masa-masa keruntuhan rezim “otoriter” orde baru, dan menyambut matahari reformasi.

” Sebagai mahasiswa angkatan 1998, tingkat satu, saya merasakan betul bagaimana situasi tahun 1998 pasca tumbangnya rezim orde baru. Hati nurani saya tergerak untuk ikut turun ke jalan, ” kata dia.

Laki-laki mahasiswa muda itu tak lain dan tak bukan adalah Prof. Dr. Andika Dutha Bachari, S.Pd, M.Hum ( Prof. Andika), yang baru saja telah mengikuti sosialisasi kepakaran sebagai Guru Besar Bahasa di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI). Dia, sosok linguist muda minat pada kajian linguistik forensik. Bahkan baru-baru ini, dia masuk TOP 500 Peneliti Indonesia Tahun 2020, di mana dari UPI ada 14 peneliti yang meraih penghargaan tersebut, salah satunya Prof. Andika

Prof. Andika saat ditemui, Senin (8/6/2020) di Hotel Grandika, Jakarta Selatan, menuturkan, suhu politik tahun 1998 ketika dirinya masih menjadi mahasiswa tingkat satu di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UPI, memang lagi panas. Bahkan kampus-kampus pun tak kunjung sepi dari giat demonstrasi. Situasi nasional masih belum stabil, kondisi sosial dan ekonomi Indonesia benar-benar dihantam badai krisis. Rupiah terpuruk. Hutang negara pun terus menumpuk.

Dalam kondisi itu Prof. Andika menyadari dengan tampilnya para mahasiswa yang turun aksi sebagai katarsis dan bagian penting dalam rangka mengawal demokrasi demi tegaknya reformasi yang dicita-citakan.

” Mentor saya untuk ikut aksi turun ke jalan saat itu ya senior saya, Kang Dadan Saputra, ” ujarnya mengakui. “Kang Dadan ini menginspirasi saya dalam hal aksi dan berorasi,” tukasnya sambil mengenang.

Dadan Saputra sendiri kini menjadi anggota Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat.

Prof. Andika, tampil secara apa daya-nya. Daya seorang linguist, seorang ilmuwan tentulah andal, dan berbeda dengan daya kapasitas seorang broker politik, misalnya. ” Mungkin kalau saya pada saat itu tidak cepat ngambil keputusan, saya sekarang sudah jadi pimpinan partai atau bahkan tidak jelas, ” ungkapnya.

Keputusan apa yang dia ambil ketika itu, yakni, kata Prof. Andika, ia menarik diri dari kegiatan aksi turun ke jalan. Bukannya tidak setuju dengan giat aksi-aksi semacam itu, tetapi ia ingin berjuang dalam bentuk lain, yakni menyelesaikan studi dan suntuk di bidang keilmuan bahasa. Hingga tercatat pernah mendirikan Sanggar Budidaya Linguistik. Minatnya terhadap linguistik terus dia geluti dengan penuh kesetiaan.

Dia memutuskan untuk suntuk menyelesaikan akademiknya. Bahwa dia harus cepat lulus kuliah S-1. Dalam hal ini, kata Prof. Andika, orang tuanya berperan penting memberikan penyadaran. Sekalipun kawan-kawan organisasinya ketika itu banyak yang menuduhnya sebagai “penghianat” lantaran dia tidak lagi turun dalam giat aksi demonstrasi. ” Ya, saya ini orangnya bengal. Menurut orang tua pada saat saya sering melakukan demo ya dianggap bengal, keras kepala, tidak nurut dan lain sebagainya,” tutur dia.

Baginya, bukan persoalan dirinya dianggap penghianat. Yang jelas keputusan saat itu untuk serius menyelesaikan akademiknya merupakan pilihan perjuangan yang sebenarnya, ditambah lagi nasehat orang tua yang terngiang-ngiang di telinga. ” Sebengal apa pun saya, saya harus berbakti kepada orang tua,” katanya.

Walhasil, hari ini Prof. Andika telah membuktikan pencapaian yang luar biasa atas pilihannya itu, yakni menjadi Guru Besar, pakar di bidang Linguistik Forensik yang tentunya sangat berguna bagi bangsa dan negara dalam upaya menciptakan kondusivitas tatanan sosial dan hukum Indonesia. Sebuah prestasi prestisius nan membanggakan telah diraihnya dengan penuh dedikasi.

##

Prof. Dr. Andika Dutha Bachari, S.Pd, M.Hum, sosok bengal namun intelektual. Itulah kesan saya terhadapnya, sejauh ingatan saya, mengenalnya. Saya saat itu mahasiswa angkatan ’94 dan Prof. Andika ini mahasiswa angkatan ’98. Adik tingkat. Sama-sama kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UPI.

Mengapa bengal? Apanya yang bengal? Apakah Prof. Andika ini sejatinya binal, banal atau memang ya bengal sejati?

Tanpa harus menjawab dan merujuk pada arti kamus, supaya tidak terlalu ketat-terikat memaknainya, kata bengal dapat ditemukan dalam ungkapan semisal ini: Si eta mah bengal nya! ( Bhs. Sunda). “Bengal” dalam pada ini terkait sikap budaya dan daya ekspresi sebagai pengejawantahan laku-lampah yang tak tedeng aling-aling, tampil apa adanya meski tak bisa dibilang banal, juga.

Kebengalan Prof. Andika, di samping memberi informasi penting lainnya sesuai kepakarannya, dapat ditelisik melalui media sosial yang dia gunakan, macam Facebook. Melalui akun Facebook media sosial yang dia miliki, kegelisahan intelektualnya itu acap kali diekspresikan sebagai status usil, menyentil permasalahan keadaan sosial kekinian. Kebanyakan dia menulis status dalam bahasa ibunya ( Bhs.Sunda). ” Ya itu ekspresi batin, jadi lebih terasa pakai bahasa Sunda,” akunya.

Sebagai contoh misalnya: kabeh daragang…ka awak-awak didagangkeun.

 

Prof. Andika, tak tampil bak kyai dengan sorban menawan. Dia lahir bersama kebudayaan masyarakat berbahasa Sunda, mengedepankan ekspresi pribadi yang otentik meskipun boleh jadi dianggap menyinggung etik. Secara pakem keilmuan boleh jadi secara kelaziman para profesor di muka bumi ini harus tampil bak ajengan santun yang menjaga marwah para dewa kaum terdidik. Hanya Allah Swt yang Mahatahu.

Hatta, daya dia memang bengal, tampil apa adanya yang boleh jadi ada apanya pada setiap status-status sebagai ekspresi dan ekspektasi individual terhadap keadaan. Jangan-jangan, seperti kata Prof. Andika sendiri, ada ihwal mensrea (maksud jahat) dalam tindak berbahasa, yakni sebagai sebuah tindakan yang dimotivasi oleh tujuan, tuturan seseorang merekam maksud si penutur dalam menyampaikan ujaran pada setiap peristiwa komunikasi tertentu.

Meskipun bengal, kecintaan terhadap almamaternya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, Jawa Barat, tempat dia berkiprah sebagai Guru Besar Bahasa dan yang membesarkan namanya, boleh jadi kadarnya sama dengan kecintaannya terhadap Klub Sepakbola Persib Bandung. Apa pasal? Ketika ada oknum yang menghina lembaga UPI di media sosial dia tampil sebagai pembela martabat. ” Bersih-bersih lembaga,” kata Prof. Andika.

Begitu pula ketika Persib tanding berlaga, dia bakal buru-buru menulis status yang “mencekam”, bahkan penuh teror kepada lawan, serasa stadion milik NU AING.

Di ujung percakapan Prof. Andika berkata, ” Saya Alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup kedua. Pokoknya pengalaman itu dahsyat,” ungkapnya seakan Prof. Andika ingin menutup cerita dengan pengalaman spiritualnya yang tak mungkin dia lupakan. Yakni, ketika terjadi gempa dan tsunami Palu pada 28 September 2018 yang nyaris merenggut nyawanya. Ketika itu dia dalam rangka menjadi pembicara pada giat seminar bahasa di sebuah kampus. Dia menginap di sebuah hotel, hingga terjadilah gempa berkekuatan besar yang disusul tsunami setinggi 5 meter. Dalam benaknya saat itu, dia merasa tak ada harapan selain mati. Namun, atas pertolongan Allah Swt. dia berhasil keluar hotel dengan penuh perjuangan yang mengharukan. Cerita lengkapnya dapat dibaca melalui link berita berikut:
https://www.google.com/amp/s/nakita.grid.id/amp/02950478/menantang-maut-di-pelupuk-mata-kisah-pramugari-garuda-yang-dibantu-dosen-upi-yang-selamat-dari-reruntuhan-hotel-mercure

##

Buku-buku yang Prof. Andika tulis di antaranya buku berjudul: Linguistik Forensik: Telaah Holistik Bahasa dalam Konteks Hukum. Desertasi doktoralnya mengenai Penerapan Wawancara Investigatif Dikaitkan Dengan Daya Bukti Berita Acara Pemeriksaan Perkara Pidana Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia.

Prof. Andika terus produktif dalam berkarya. Bahkan di masa pandemi covid-19 ini, dia berhasil memperoleh empat pencatatan hak cipta, yang masih terkait dengan linguistik forensik. Sejak jadi dosen UPI bahkan memiliki 9 HAKI dan 1 Paten.

Prof. Andika Dutha Bachari, S.Pd, M.Hum dilahirkan di Cimahi 29 Januari 1980. Terlahir dari pasangan Rd.E.Hidayat yang bekerja sebagai anggota TNI AU, dan Herawati yang bekerja sebagai guru sekolah dasar. Masa kecil dia habiskan di Cimahi. Selepas lulus dari SMA Negeri 5 Cimahi pada tahun 1998, melanjutkan pendidikan tinggi pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS UPI, Pendidikan Magister dan Doktor ditempuh di Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana UPI dengan minat kajian Linguistik Forensik. Saat ini bekerja sebagai dosen di Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan mengampu mata kuliah Linguistik Umum, Pragmatik, dan Linguistik Forensik. Selain mengajar di UPI, mengajar pula di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) untuk beberapa bidang kajian. Sampai saat ini masih aktif berperan sebagai ahli bahasa untuk Kepolisian Negara Republik Indonesia ( POLRI).# ( Lukman A.Salendra, Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi, Alumni UPI)

Related posts