Amerika Serikat, GPriority.co.id – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait minyak Iran.
Dalam perkembangan terbaru konflik Timur Tengah 2026, Trump tidak hanya menyinggung kemungkinan penyitaan Pulau Kharg, tetapi juga mengklaim Iran mengirim 20 kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz sebagai “tanda penghormatan”.
Dilansir dari The Guardian, pernyataan ini dinilai bertolak belakang dengan sikap sebelumnya yang menyebut Amerika tidak membutuhkan minyak Iran. Kini, Trump justru membuka opsi agresif dengan mengatakan AS bisa “mengambil minyak Iran” dan bahkan mempertimbangkan untuk menguasai Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
“Kita bisa saja mengambilnya. Kita akan mengambil Pulau Kharg,” ujar Trump.
Sebagai informasi, Pulau Kharg sendiri memiliki peran vital dalam ekonomi Iran karena menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut. Jika wilayah ini direbut, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran, tetapi juga pasar energi global.
Di sisi lain, Trump juga mengungkap bahwa Iran telah mengizinkan 20 kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Awalnya, jumlah kapal yang diperkirakan hanya delapan hingga sepuluh, namun kemudian meningkat menjadi 20 kapal. Trump menyebut langkah ini sebagai sinyal positif dalam hubungan kedua negara di tengah konflik.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak pecahnya konflik Iran-AS pada awal 2026, jalur ini sempat terganggu bahkan nyaris lumpuh akibat serangan dan ancaman militer. Situasi ini menyebabkan lonjakan harga minyak global hingga di atas USD 115 per barel.
Berdasarkan laporan NY Post, konflik ini juga berdampak luas terhadap berbagai negara, terutama di Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk. Beberapa negara bahkan menghadapi krisis energi akibat terganggunya distribusi minyak dan gas.
Namun, di balik klaim Trump tentang “tanda penghormatan” dari Iran, banyak analis menilai situasi ini jauh dari stabil. Ketegangan militer masih tinggi, dengan ancaman serangan drone, ranjau laut, dan blokade yang dapat kembali mengganggu jalur perdagangan energi kapan saja.
Selain itu, rencana penyitaan Pulau Kharg juga dinilai berisiko tinggi. Meskipun secara militer mungkin dapat dilakukan, langkah tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih besar dan memperburuk krisis global, terutama di sektor energi.
Di tengah situasi ini, dunia kini menyoroti arah kebijakan luar negeri Trump yang tampak berubah-ubah. Di satu sisi, ia menyatakan tidak membutuhkan minyak Iran, namun di sisi lain justru mempertimbangkan pengambilalihan sumber energi tersebut.
