Ini Kelompok Rentan Gangguan Mental Pascabencana, Ada Nakes

Ilustrasi tenaga kesehatan (nakes) mengalami gangguan mental pascabencana/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Stres akibat bencana hebat merupakan hal yang wajar, mengingat bencana datang secara tiba-tiba dan sering kali membawa dampak besar bagi kehidupan para korban. 

Oleh karena itu, penyintas bencana membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari bantuan materi, layanan kesehatan fisik, hingga pendampingan kesehatan mental.

Meski demikian, tidak semua penyintas memiliki tingkat kerentanan yang sama. Terdapat kelompok-kelompok tertentu yang perlu menjadi fokus utama karena lebih rentan mengalami gangguan mental akibat bencana.

Psikolog RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Silviani, mengatakan penanganan psikologis pascabencana memang harus memprioritaskan kelompok rentan.

“Orang yang misalnya punya penyakit tertentu, lansia, kemudian disabilitas, itu termasuk orang-orang yang punya kerentanan psikologis ketika dihadapkan sama lingkungan bencana,” ujar Silviani dalam diskusi Mental Health Matters untuk Penyintas Bencana, di instagram Kementerian Kesehatan, Kamis (29/1).

Ia menjelaskan, dalam kondisi darurat, bantuan sebaiknya difokuskan pada kelompok-kelompok tersebut. Pengalaman pendampingannya di daerah bencana, seperti Aceh, menunjukkan bahwa anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian khusus.

Selain itu, Silviani menyoroti tenaga kesehatan (nakes) sebagai kelompok yang kerap luput dari perhatian. Padahal, mereka tidak hanya bertugas membantu korban, tetapi juga bisa menjadi penyintas bencana.

“Memang yang difokuskan adalah ke anak-anak dan orang dewasa, yang misalnya lansia seperti itu. Dan termasuk sebenarnya kalau kemarin fokusnya kami di nakes. Jadi petugas kesehatan yang memang mereka sebenarnya juga penyintas, tapi juga membantu para korban,” jelasnya.

Menurut Silviani, ada orang-orang yang terlihat baik-baik saja di permukaan, namun sebenarnya memendam tekanan psikologis, terlebih jika mereka juga terdampak langsung oleh bencana. Karena itu, pendampingan kesehatan mental perlu diberikan secara menyeluruh, termasuk kepada para petugas di lapangan.

“Makanya ada orang-orang yang mungkin dikiranya baik-baik saja, tapi mungkin sebenarnya dia juga menahan, apalagi menjadi salah satu penyintas seperti itu,” pungkas Silviani.