Jangan Panik Dengan Corona

Jakarta,Gpriority-Seperti kita ketahui Presiden Joko Widodo telah mengumumkan bahwa ada dua orang di Depok yang sudah terinveksi virus Corona.

Hal ini tentu saja menimbulkan ketakutan dan kecemasan masyarakat Indonesia. Alasan inilah yang membuat Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) menggelar jumpa pers terkait Corona pada Rabu (4/3/2020).

Hadir dalam acara tersebut jajaran Direksi RSUP Persahabatan, dr. Rita Rogayah,Sp.P(K), MARS selaku Direktur Utama, Sri Purwaningsih Teguh Rahayu, SE, MARS, Direktur Keuangan,dr. Rochman Arif , M. Kes,Direktur Umum, SDM dan Pendidikan.DR. dr. H. M. Alsen Arlan, Sp.B-KBD, MARS,Direktur Medik Dan Keperawatan serta Dr. Vonny Yahya, kepala bidang pelayanan medik.

Dijelaskan oleh dr. Rita Rogayah,Sp.P(K), MARS, masyarakat tidak perlu panik, karena semua pasien yang terjangkit Corona di Indonesia mengakui bahwa mereka terkena setelah bertemu dengan warga negara asing yang negaranya terkena Corona.

“Jadi kita harus hati hati kalau ada yang datang dari negara terjangkit. Atau kontak erat dengan penderita yang sudah positif. Tapi kalau kita bertemu dengan orang Korea,Jepang yang sehat dan ada di Indonesia jangan takut.Untuk itulah masyarakat jangan panik,” jelasnya.

Rita juga menghimbau agar masyarakat mulai pada saat ini membiasakan cuci tangan, konsumsi makanan yang sehat dan juga pola hidup sehat. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari virus corona.

Terkait mana pasien yang harus dimasukkan ruang isolasi,Rita mengatakan bahwa pasien yang masuk dalam pengawasan. Yang dimaksud pasien dalam pengawasan seperti dijelaskan Rita adalah memiliki gejala ringan seperti demam, batuk,sakit tenggorakan,sesak nafas, dari hasil observasi ada saluran napas bawah yang terganggu dan ada kontak dengan warga negara asing yang negaranya terkena Corona.

Tetapi kalau orang dalam pemantauan yang memiliki gejala yang ringan, seperti demam, batuk,sakit tenggorakan, sesak napas tetapi tidak ada kontak dengan penderita maka disebut orang dalam pemantauan. Sehingga tidak perlu dimasukkan ke dalam ruang perawatan.

“Kita juga harus melakukan seleksi jangan sampai yang kita masukkan bukan pasien dari pengawasan, ” ujar Rita.

Rita juga mengatakan, “Saat ini RSUP Persahabatan bekerjasama dengan satpam untuk membuat ceklist kalau ada pasien yang datang maka kita kasih ceklist, kalau yang datang dari negara terjangkit maka akan dipisahkan, dan diperiksa apakah dalam pengawasan atau pemantauan. Kalau pemantauan maka pasien ini boleh pulang dan melapor ke dinas kesehatan. Masalah biaya kami sudah rapat untuk kasus ini maka ditanggung negara, untuk asing bisa menggunakan asuransi”.

Hal yang sama juga berlaku untuk biaya perawatan, penderita yang dirawat tidak diminta biaya perawatan karena sudah ditanggung pemerintah .Untuk pasien dalam pengawasan (PDP) yang akan masuk ruang inap maka akan ditangani sesuai prosedur ruang inap.

“Dan setelah dinyatakan sehat, maka kami akan mengeluarkan pernyataan bukan sertifikat, tutur Rita.

Rita juga menjelaskan bahwa di RSUP Persahabatan memiliki ruang isolasi yang terpisah dengan ruang lainnya.

Di akhir jumpa pers, Rita mengatakan,” Selain covid, kita juga harus pikirkan tubercolosis. Untuk itulah saya berharap pemerintah canangkan bahwa kita harus waspada juga dengan tubercolosis. Karena angka kematian lebih tinggi.”(Hs)

Related posts