Jasa Marga Larang Kendaraan Berat Melintasi Tol Selama Libur Panjang

Jakarta, GPriority.co.id – Dalam rangka libur panjang Isra Mi’raj dan Imlek, Jasa Marga dengan tegas melarang kendaraan berat melintasi tol. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kelancaran lalu lintas selama liburan panjang sampai hari Minggu (11/2) besok.

” Hal tersebut Kami lakukan untuk menjamin keselamatan, keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dan penyeberangan. Serta mengoptimalkan penggunaan dan pergerakan lalu lintas pada ruas jalan tol selama libur panjang,” ujar Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga, Lisye Octaviana.

Dalam pengaturan lalu lintas yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB), terdapat pembatasan operasional angkutan barang. Untuk kendaraan mobil barang dengan Jumlah Berat yang Diizinkan (JBI) lebih dari 14.000 kilogram, mobil barang dengan sumbu tiga atau lebih.

Kemudian mobil barang dengan kereta tempelan, mobil barang dengan kereta gandengan.Serta mobil barang untuk pengangkutan baik itu tanah, pasir, batu, hasil tambang atau bahan bangunan dan penetapan sistem contraflow.

“Pembatasan operasional angkutan barang yang telah diberlakukan mulai hari Rabu, 7 Februari 2024 pukul 16.00 WIB sampai Minggu, 11 Februari 2024 pukul 24.00 WIB. Pemberlakuan tersebut untuk sejumlah ruas tol Jasa Marga Group, hasilnya hari pertama pembatasan angkutan menurun 30 persen,” ujar Lisye.

Untuk menjamin keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas, pihak Jasa Marga mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar berhati-hati dan menaati peraturan yang ada.

Selain itu, untuk pengendara diminta agar memastikan kecukupan BBM dan saldo e-toll untuk menghindari antrean di gerbang tol. Selain itu, saat memasuki GT Cikampek Utama Tol Jakarta-Cikampek, pengguna jalan harus mematuhi rambu dan arahan petugas.

Jasa Marga juga akan mendukung penerapan rekayasa lalu lintas contraflow sesuai diskresi Kepolisian dengan ketentuan waktu pengaturan lalu lintas. Selanjutnya, ketentuan rekayasa lalu lintas contraflow dapat dievaluasi waktu pemberlakuannya berdasarkan pertimbangan dari Kepolisian didasarkan pada kondisi lalu lintas.

“Di dalam SKB disebutkan, dalam hal terjadi perubahan arus lalu lintas secara tiba-tiba atau situasional. Pihak Kepolisian dapat melaksanakan manajemen operasional berupa diskresi pihak Kepolisian,” tutur Lisye.

Foto : Berita Cikarang