Jemput Pasien hingga Pedalaman, dr. Amirah Jadi Penerang di Tengah Kegelapan

dr. Amirah, SpOG., M. Ked. Klin

Tak banyak daerah di Indonesia yang mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, khususnya dalam hal proses persalinan yang tidak tertolong oleh tenaga medis. Salah satunya di daerah Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Hal ini yang mengakibatkan faktor tingginya angka kematian ibu maupun bayi. Kabupaten Fakfak merupakan daerah yang memiliki anak usia dibawah 20 tahun sudah menikah dan hamil dengan usia yang masih muda.

Secara umum, sebagian masyarakat masih mempergunakan jasa “mama biang” atau dukun bayi untuk membantu proses persalinan. Kondisi ini semakin memprihatikan dengan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil yang minim tentang pentingnya memeriksakan kandungan.

Akan tetapi, sejak 2013 kondisi ini mulai diperbaiki dengan kehadiran dokter yang berhati mulia, yaitu dr. Amirah, SpOG., M. Ked. Klin yang senantiasa memberikan edukasi kepada ibu hamil sebelum mereka masuk ke dalam proses persalinan. Bahkan dr. Amirah selalu memberikan sosialisasi kepada suami istri terkait pentingnya sebuah kesehatan, edukasi seks, dan sebagainya. Pengabdian yang diberikan dr. Amirah pada daerah Fakfak adalah bentuk kepedulian melayani sesama yang sulit terjangkau dan sangat membutuhkan pertolongan terutama ibu dan anak.

dr. Amirah mengaku, sudah menjadi seorang dokter umum dari tahun 2013 sampai tahun 2015, namun ia menjadi seorang spesialis kandungan sudah hampir 3 tahun lamanya. “Untuk spesialis kandungannya sudah hampir 3 tahun mba, tapi sebetulnya saya di Fakfak dari tahun 2013. Jadi 2013 itu saya sudah jadi dokter umum disini, 2013 saya sudah jadi dokter umum di Fakfak sampai 2015,” ucapnya saat diwawancarai via telepon, Selasa (14/02/2023).

Dokter kelahiran Bogor, Jawa Barat ini telah mengabdikan dirinya di daerah Fakfak selama 10 tahun. Berawal dari menjadi seorang dokter umum dengan memberi pelayanan berupa mendatangi bersama tim ke rumah-rumah penduduk, bahkan sampai ke kampung-kampung menggunakan perahu yang berisi obat-obat dan peralatan medis. “Saya sudah mengabdi di Fakfak dari tahun 2013 sudah hampir 10 tahun mba. Cuman saya dulu dokter umum di puskesmas di kampung mba. Nah makanya dengan saya jadi dokter umum di kampung, sering turun lapangan dengan perahu, ke rumah-rumah penduduk, ke kampung-kampung untuk pemeriksaaan puskemas keliling,” katanya.

Tak berhenti menjadi dokter umum di Fakfak, dr. Amirah diberikan kesempatan beasiswa oleh Kementerian Kesehatan mengambil pendidikan S2 di Universitas Airlangga Surabaya dengan jurusan Spesialis Kebidanan dan kandungan (double degree dengan Magister kedokteran klinik). Hal ini dikarenakan selama 2 tahun ia melihat banyak ibu hamil yang tidak tertangani secara maksimal hingga tidak mendapatkan edukasi terkait kesehatan ibu hamil. “Melihat kondisi seperti ini, akhirnya saya dapat kesempatan beasiswa dari kemenkes untuk lanjut ke sekolah spesialis Kebidanan dan kandungan karena dulu disini ga ada dokter kandungannya,” tuturnya. Namun setelah ia lulus di bangku pendidikan S2, ia mengabdikan diri kembali di Fakfak tahun 2020 sebagai dokter kandungan.

Pengabdian yang diberikan oleh dr. Amirah kepada masyarakat Fakfak merupakan prinsip hidupnya yang ingin menjadi “penerang ditengah kegelapan” artinya, menjadi seseorang yang berguna di tempat yang kurang dijangkau oleh banyak orang bahkan pemerintah sendiri. “Jadi yang mendasari mengapa saya menjadi dokter umum disini karena saya melihat tempat yang jauh, yang saya tahu selama saya hanya Papua di Indonesia, dan di Papua itu beritanya susah aksesnya, orang-orangnya sulit secara edukasi, ekonomi,” kata dr. Amirah

Kehadiran dr. Amirah bersama timnya ditengah-tengah masyarakat Fakfak memberikan perubahan yang cukup besar. Hal ini terlihat dari akumulasi selama 1 tahun ia di Fakfak sudah menangani proses persalinan sebanyak 1800 persalinan baik secara normal maupun operasi. Berarti selama 10 tahun sudah ribuan proses persalinan yang ia lakukan bersama tim medis lainnya. Pelayanan lainnya yang diberikan oleh dr. Amirah ialah terbentuknya sebuah program yang bernama “Pelayanan Kesehatan Bergerak” artinya pelayanan door to door, mendatangai masyarakat yang bertempat tinggal yang jauh dan kondisi ekonomi yang rendah.

Selama memberikan pelayanan kesehatan di Fakfak, dr. Amirah menyadari tantangan yang ia hadapi bukan lagi dengan masyarakat Fakfak melainkan harus siap menghadapi kondisi alam yang terkadang tidak menentu, seperti jika melakukan pelayan door to door, ia bersama tim harus melewati laut dengan jangka waktu yang berjam-jam dan harus melawan kuatnya ombak, hujan, angin kencang, bahkan gelombang tinggi. Sehingga hal ini yang terkadang membuat ia dan tim harus berteduh di pulau kosong. “Jadi tantangannya ya, kalau di tepi laut ombak, kalau di rawa-rawa, sungai ya tantangannya ya buaya, karena banyak buaya disini,” katanya.

Di akhir perbincangan, dr. Amirah menyampaikan masukan untuk pemerintah daerah (pemda) terkait mengurangi angka kematian ibu, “untuk pemda kita berharap agar terus mensupport pelayanan Kesehatan bergerak atau door to door ke pedalaman-pedalaman sehingga tiap tahunnya memiliki perkembangan yang signifikan dan banyak masyarakat Fakfak mendapatkan pelayanan dan edukasi tentang Kesehatan terutama untuk ibu hamil dan bayi,”

Tak hanya untuk pemda saja, dr. Amirah memberikan pesan untuk ibu-ibu hamil di Papua Barat khususnya daerah Fakfak, “untuk ibu hamilku tercinta, jangan menyerah pada keadaan, percayalah bahwa di tempat gelap sekalipun selalu ada cahaya dan kami disini akan terus berjuang untuk menjadi penerang dalam kegelapan itu. Jadi ibu-ibu di Fakfak Anda tidak sendirian, ada kita disini yang selalu menjadi penolong. LOVE YOU,” tutupnya. (Sifra Rebeka Waruwu │ Foto : dr. Amirah)