Jakarta, GPriority.co.id – Keluarga Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menolak keras segala bentuk penindasan terhadap komika, termasuk Pandji Pragiwaksono, terkait materi stand up comedy yang mengkritik pemerintah.
Penegasan tersebut disampaikan tokoh Gerakan Nurani Bangsa sekaligus putri Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid, dalam jumpa pers bertajuk Pesan Kebangsaan Awal 2026 yang digelar di Kompleks Katedral, Jakarta Pusat, Selasa (13/1).
“Saya sebagai putri biologis dan insya Allah ideologis Gus Dur, tentu menolak segala bentuk penindasan terhadap semua yang berpendapat, terutama para komika,” kata Alissa.
Menurut Alissa, dirinya yang merupakan keturunan Gus Dur, yang dikenal sebagai sosok dengan selera humor tajam, meyakini bahwa humor memiliki peran penting, bukan sekadar guyonan, melainkan sebagai sarana kritik dan refleksi atas kehidupan yang kompleks. Hal serupa juga diyakini adiknya, Inayah Wahid, yang juga seorang komika.
“Kami meyakini betul bahwa humor itu dibutuhkan bukan hanya untuk sekedar guyon-guyon, tetapi memang kritik dan refleksi atas kehidupan yang jauh lebih rumit ini akan lebih mudah dengan humor. Rakyat mudah memahami, pemerintah juga atau para penguasa itu juga akan lebih mudah untuk menerima dan mencernanya,” tuturnya.
Karena itu, lanjut Alissa, apabila humor dilarang, maka ruang kritik yang disampaikan secara serius justru akan semakin sempit dan berat.
“Jadi kami tentu menolak segala bentuk pengekangan kebebasan berpandangan dan berpendapat, serta berkumpul dan berserikat. Termasuk berpendapat melalui pandangan-pandangan umum seperti para demonstran kita, maupun para komika dan para pemengaruh melalui kanal-kanal media sosial,” jelas Alissa.
Alissa menegaskan, rakyat bukanlah musuh negara. Rakyat yang kritis justru merupakan modal penting bagi kemajuan bangsa. Jika rakyat dilarang mengkritik, maka negara berpotensi mengalami kemunduran.
Ia kemudian menyinggung humor Gus Dur pada masa Orde Baru yang menggambarkan terbatasnya kebebasan berpendapat kala itu.
“Gus Dur dulu punya humor begini, ada seorang dokter gigi di Singapura yang bingung, mengapa kok banyak sekali orang pada masa Orde Baru itu pergi berobat ke dokter giginya kok di Singapura. Jadi suatu ketika dia bertanya kepada pasiennya dari Indonesia, emang di Indonesia tidak ada dokter gigi? Oh banyak. Lalu mengapa banyak orang Indonesia memeriksakan mulutnya giginya ke dokter-dokter gigi di Singapura? Ya karena kalau di Singapura, kami bisa buka mulut. Itu Gustur melemparkan joke itu di masa Orde Baru,” jelasnya.
Alissa pun mengingatkan agar di masa depan tidak ada lagi situasi di mana rakyat merasa tidak boleh “membuka mulut” di negerinya sendiri, hingga harus melakukannya di negara lain.
