Kemajuan Pertanian di Tangan Anak Muda

Pandemi ternyata mampu mengubah gaya hidup generasi muda, yang pada awalnya enggan menjadi petani, kini malah memilih profesi tersebut.

 

Menurut Asep salah seorang petani Milenial asal Kabupaten Bandung yang diwawancarai via medsos pada Rabu (13/10/2021) yang membuat dirinya beserta beberapa kaum milenial beralih profesi sebagai petani adalah masa depan cerah.

 

“ Ya menjadi seorang petani sudah pasti membuat masa depan menjadi cerah terlebih di masa pandemi ini. Karena semua bahan makanan yang kita tanam sudah pasti akan dibeli orang,” ucap Asep.

 

Asep pun memberikan contoh padi yang dia tanam, ataupun singkong. Baik padi maupun singkong selalu dicari oleh pembeli di masa panen. Terkait dengan keuntungannya, bisa terbilang lumayan dibandingkan dengan membuka usaha percetakan, sablon dan lain sebagainya.

 

Asep dalam kesempatan tersebut juga mengatakan bahwa  menciptakan bisnis pertanian yang menguntungkan bagi pemuda tak hanya berangkat dari pola pikir menjadi petani dengan hanya menanam, merawat, memanen tetapi lebih dari itu. Cara bertani yang memperhatikan keselamatan lingkungan hidup, seperti pertanian organik, juga bagian penting.

 

“Bertani tidak hanya bicara menanam, rawat dan panen. Tidak. Tetapi filosofi bertani dengan cara organik ini membuat kita bisa merenung bahwa kita ini lahir apakah sudah memberikan manfaat pada sekitar, atau justru memberikan kerusakan. Baik sisi kehidupan manusia dan lingkungan,” katanya.

 

Dengan kaum muda menerapkan pola pertanian organik , katanya, sektor pertanian pun bisa menghasilkan produk sehat bagi masyarakat sekaligus melestarikan lingkungan hidup.

 

Jadi petani milenial, katanya, biasa hadapi kendala secara internal dan eksternal. Sisi internal, katanya, ada beberapa faktor penentu, pertama, perlu dukungan lingkungan terdekat. Kedua, niat dan komitmen.

 

“ Kaum muda, katanya, biasa banyak keinginan atau banyak mimpi tetapi masih labil dalam bersikap. Dalam bertani, kadang berhadapan dengan masa berat, seperti kendala musim. Untuk itu, katanya, perlu niat dan komitmen yang kuat. Ketiga, modal atau akses permodalan,” ucap Asep.

Untuk tantangan eksternal, Asep menjelaskan , pertama, soal lahan. Kedua, sumber daya manusia, ketiga, pola pikir petani dan konsumen mengenai produk organik dan keempat, kebijakan .

“ Jika semua ini bisa diatasi, Insya Allah kita akan bisa sukses menjadi seorang petani,” tutup Asep.(Hs.Foto.dok.pribadi)

Related posts