Kenali Ciri-ciri Lingkungan Kerja Toxic, Begini Cara Menghadapinya

Penulis : M. Hilal | Editor : Dimas A Putra | Foto : Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Apakah kamu pernah merasa tidak nyaman saat sedang bekerja? entah dari budaya pekerjaan maupun rekan-rekan di sekitarmu? Bisa saja itu pertanda bahwa kamu terjebak dalam lingkungan kerja yang toxic.

Lingkungan kerja toxic tidak akan mengantarkan seseorang menuju work life balance (keseimbangan kehidupan kerja), yaitu keseimbangan yang diimpikan sebagian besar pekerja.

Namun, sebelum membahas mengenai cara menghadapinya, kamu juga harus tahu tanda-tandanya, yuk simak!

Definisi Apa Itu Lingkungan Kerja Toxic

Lingkungan kerja yang toxic merupakan keadaan yang mengacu pada ke-tidak seimbangnya budaya, situasi, serta profesionalitas antar rekan dalam suatu pekerjaan. Kondisi ini bisa menimbulkan dampak besar bagi karyawan sekaligus terhadap keberlangsungan perusahaan. Kamu harus tau, masalah ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik seperti stress dan gangguan tidur. Selain itu juga dapat menimbulkan efek mental, misalnya seperti anxiety, burnout hingga depresi.

Oleh karena itu, apabila prosedur kerja yang toxic tidak segera ditangani, maka besar kemungkinan akan menjalar kepada ke-tidak berkembangnya perusahaan ataupun usaha.

Apa Saja Ciri-cirinya?

Perlu kamu tau, iri-ciri lingkungan kerja toxic tidak dapat langsung diketahui pada masa kamu awal bekerja. Hal ini dikarenakan perlunya adaptasi serta pengamatan lebih lanjut tentang budaya pekerjaan dari perusahaan.

Lalu, seperti apa ciri-ciri lingkungan kerja toxic yang bisa menjadi tanda bahaya kepada pekerja dan perusahaan?

1. Kurangnya Transparansi Sistem Kerja

Disaat menerima dan menandatangani kontrak kerja, pada umumnya dicantumkan beberapa informasi krusial tentang perusahaan dan hal-hal yang berkaitan dengan deskripsi pekerjaan, seperti jobdesk pekerjaan, besaran gaji, bonus, dan periode selama bekerja.

Jika hal tersebut di atas tidak dicantumkan pada perjanjian kontrak atau bahkan pembahasannya terkesan dihindari, maka kamu perlu berhati-hati. Sebab, ketidakjelasan prosedur tersebut berpotensi besar untuk mengeksploitasi kinerja pada karyawan.

2. Kurangnya Profesionalitas Kerja

Profesionalitas kerja adalah aspek utama dalam pekerjaan. Sudah seharusnya, seluruh jajaran perusahaan sekaligus karyawan memiliki etika baik dan pandangan goal-oriented.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pada budaya kerja sering terjadi tindakan saling meremehkan, mencemooh, mengabaikan, atau mengutarakan bahasa yang tidak sopan dalam ruang lingkup kantor.

Selanjutnya, terjadi juga dalam salah satu rekan kerja yang sering terlambat, membolos, membebankan pekerjaan kepada orang lain, atau bahkan melakukan perundungan fisik maupun verbal di kantor. Jika kamu sudah menemukan ataupun sudah mengalami beberapa kejadian di atas, sebaiknya kamu membantu pihak yang dirugikan melalui dukungan psikis atau melaporkannya pada pihak berwenang.

3. Tidak Diberikan Apresiasi dan Kesempatan Berkembang

Sudah selayaknya, suatu perusahaan mendukung serta memfasilitasi karyawannya untuk memperluas keahlian, pengalaman, jaringan, dan karir selama periode bekerja. Contoh dukungan itu bisa direalisasikan dengan kesempatan untuk kenaikan pangkat atau gaji.

Berhubungan dengan hal ini, memang sejatinya pada awal kamu bekerja, kamu mungkin malu untuk bertanya terkait hal berikut. Sebagai solusi, kamu bisa mengamati rekan kerja yang sudah bekerja lama, apakah kiranya pernah mendapatkan pelatihan tertentu atau justru telah mengalami kenaikan pangkat dan gaki sesuai dengan jobdesk dan performa pekerjaannya.

Jika kantor tidak memberikan fasilitas di atas, apabila memungkinkan, segeralah berpindah dari perusahaan tersebut karena telah menunjukkan indikasi lingkungan kerja yang toxic.

4. Beban dan Waktu Berkerja Tidak Seimbang

Hal ini mengacu pada deskripsi pekerjaan di kontrak, ketika telah menjadi karyawan, pada umumnya kamu akan diberikan informasi tentang jam dan beban kerja. Sekalipun tidak tertulis, keterangan tersebut seharusnya pernah dibahas oleh kedua belah pihak.

Apabila selama bekerja kamu mengalami pemotongan jatah cuti atau izin, penghapusan masa libur maupun penambahan beban dan jam kerja tanpa adanya perhitungan gaji lembur atau gaji hari libur, maka hal tersebut sudah termasuk dalam tanda lingkungan kerja yang toxic.

5. Harus Patuh Perintah Atasan dan Anti Kritik

Perlu kamu pahami bahwa memiliki otoritas lebih tinggi tidak selalu menunjukkan jiwa leadership yang baik. Pembatasan kritik dan saran dalam konteks profesional dianggap sebagai salah satu hal yang mencerminkan budaya kerja.

Jika kamu merasa tidak bebas mengutarakan pendapat bersifat konstruktif, merasa diremehkan, jarang menerima apresiasi, sering mendapatkan cemoohan atau dipaksa taat pada perintah, maka akan sangat disarankan untuk merubah jalur karir di perusahaan lain.

Bagaimana Cara Menghadapinya?

Menghadapi tantangan dalam dunia kerja memang bukan hal yang mudah diatasi. Mengingat adanya perbedaan jabatan serta tuntutan pekerjaan, maka menemukan jalan keluar pun bisa dianggap sebagai rintangan tersendiri.

Lantas, bagaimana cara menghadapi hal tersebut? Mari secara simak seksama.

1. Fokus Pada Diri Sendiri dan Pekerjaan

Dasarnya, pekerjaan merupakan aspek pendukung kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, menciptakan batas antara kehidupan dengan kerja merupakan hal yang sangat wajar dilakukan. Hal ini, biasa disebut dengan work life balance, pekerjaan sebaiknya dilakukan secara optimal pada saat jam kerja dan tidak dibawa ke rumah. Hal ini juga berlaku sebaliknya, hindari menyebarkan masalah yang bersifat pribadi kepada orang yang tidak dipercaya atau kepada rekan kerja.

Hal demikian, dengan maksud membuat batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sehingga kamu dapat mendapatkan waktu untuk istirahat serta menjernihkan pikiran.

2. Menjalin Hubungan Baik dengan Rekan Terpercaya

Perlu kamu pahami, jika setiap kepribadian seseorang bersifat cenderung variatif atau bervariasi. Menyinggung hal tersebut, dalam lingkungan kerja, kamu perlu menjaga etika baik dan sopan pada seluruh rekan kerja.

Kendati demikian, pastikan diri kamu menemukan satu atau dua orang yang menjadi panutan serta pendukung untuk membantu melewati lingkungan kerja yang toxic.

3. Menemukan Hobi dan Lakukan Me Time

Cara lain untuk menyegarkan pikiran setelah bekerja di lingkungan yang kurang kondusif adalah dengan menemukan hobi dan melakukan Me Time pada diri sendiri. Setelah jam kerja selesai atau di hari libur, usahakan untuk memfokuskan diri dalam kegiatan lain guna menghilangkan rasa suntuk dan stres pada diri sendiri.

Lalu, mengesampingkan waktu untuk diri sendiri setiap harinya sebagai langkah self reward bukanlah hal yang buruk. Justru, kamu perlu rehat sejenak guna merawat kondisi fisik maupun mental.

Mulai dari hal sederhana seperti membeli makanan dan minuman favorit, makan siang sendiri atau segera pulang setelah jam kerja, segera kamu lakukan langkah baik untuk dirimu sendiri, supaya besok nya bisa lebih produktif dalam melakukan pekerjaan.

Selain itu, kegiatan me time seperti memasak, berolahraga, pergi berbelanja, menonton film, atau bermain game di hari libur juga bisa menjadi alternatif untuk mengalihkan fokus dari pekerjaan.

Nah, itu dia penjelasan mengenai definisi lingkungan kerja toxic, ciri-ciri, dan cara menghadapinya.

Perlu diketahui, setiap orang memang pada hakikatnya membutuhkan pekerjaan. Namun, jika kamu sudah berkerja dan mengalami lingkungan kerja yang toxic, maka kamu bisa menerapkan beberapa tips di atas agar segera keluar dari kondisi tersebut.