Aceh, GPriority.co.id – Kondisi Aceh Tengah kian parah usai Desa Toweren, Kecamatan Lut Tawar, diterpa banjir sejak Minggu (14/12) lalu. Padahal, hingga saat ini penanganan bencana banjir dan longsor belum berakhir.
Dilansir dari ANTARA, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menyebut banjir bandang tersebut membuat kondisi Desa Toweren yang sudah terdampak, kini semakin bertambah parah. Beruntung, akses jalur darat menuju ke sana masih dapat ditempuh kendati telah 2 kali diterpa banjir bandang.
“Ada (banjir bandang). Awalnya sudah terdampak parah, ditambah lagi kondisi kemarin (tambah parah). Akses darat masih bisa. Kondisi sekarang masih hujan,” ujar Mustafa dikutip dari Pos Aceh.
Mustafa pun meminta masyarakat Kabupaten Aceh Tengah untuk tetap waspada terkait bencana hidrometerologi, termasuk banjir susulan. Terlebih, saat ini daerah tersebut masih diguyur hujan. Perlu diketahui, bencana hidrometerologi ialah bencana yang berhubungan dengan siklus hidrologi seperti curah hujan, temperatur, hingga angin dan kelembaban.
Berdasarkan video yang ramai beredar di media sosial, terlihat air mengalir deras di Desa Toweren dan membawa kayu-kayu gelondongan dalam jumlah besar.
Sementara itu, seorang reporter CNN Indonesia terlihat menangis saat melaporkan kondisi terkini di Aceh. Ia diminta pengungsi untuk memberitakan kondisi yang sebenarnya terjadi di Aceh.
Diketahui, reporter yang juga merupakan produser lapangan tersebut bernama Irine Wardhanie. Dirinya tak kuasa menahan air mata saat melaporkan langsung dari Aceh Tamiang, pada Senin (17/12) kemarin.
Terlihat pada cuplikan video CNN Indonesia, Irine terlihat berdiri tak jauh dari lokasi terdampak. Ia mengungkap, hingga saat ini banyak anak-anak yang belum mendapatkan makanan.
“Ini mungkin live terakhir saya di Aceh dan daritadi kami dititipkan pesan sebagai jurnalis agar bisa memberitakan yang sebenarnya soal Aceh dan ini berat buat kami. Seberat usaha relawan menembus wilayah-wilayah yang terdampak,” ungkap Irine yang tak bisa menahan kesedihannya.
Sementara itu, data BNPB melaporkan, bencana di Sumatera sampai saat ini telah menelan sebanyak 1.059 korban jiwa, dan 192 orang masih dinyatakan hilang. Sementara itu, sekitar 7.000 lainnya mengalami luka-luka.
