Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto belum lama ini menyampaikan keinginan kuatnya agar wilayah Papua dapat mengembangkan tanaman kelapa sawit. Ia berpendapat, pemanfaatan sumber daya lokal salah satunya kelapa sawit di Papua, mempunyai potensi besar untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM).
Bukan hanya kelapa sawit, Prabowo juga mengusulkan keinginannya untuk menanam tebu dan singkong yang mampu menghasilkan etanol.
“Kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit, juga tebu menghasilkan etanol, singkong cassava juga untuk menghasilkan etanol,” ujarnya dikutip dari ANTARA.
Dalam 5 tahun ke depan, dirinya bertekad kuat membuat seluruh daerah bisa mencapai swasembada pangan dan energi, sehingga nantinya dapat mengurangi ketergantungan distribusi energi dari luar daerah serta menekan biaya impor BBM hingga ratusan triliun rupiah.
“Menteri ESDM berapa impor kita BBM dari luar? Rp520 triliun, bayangkan kalau kita bisa potong setengah berarti ada Rp250 triliun apalagi kita bisa potong Rp500 triliun. Rp500 triliun itu berarti tiap Kabupaten bisa punya kemungkinan Rp1 triliun tiap Kabupaten,” jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menyebut pemerintah menerapkan kebijakan campuran etanol 10 persen atau E10 pada bahan bakar minyak (BBM). Dilansir dari ANTARA, pencampuran etanol baru akan diterapkan 5 persen (E5) melalui produk Pertamax Green 95.
Bahlil menuturkan, kebijakan E10 tersebut telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada energi fosil serta impor bahan bakar.
“Kita akan campur bensin kita dengan etanol, tujuannya agar kita tidak impor banyak, dan juga untuk membuat minyak yang bersih, yang ramah lingkungan,” jelas Bahlil.
Bahlil menyebut, etanol berasal dari bahan baku lokal diantaranya seperti tebu, jagung, dan singkong. Sehingga akan lebih ramah lingkungan dan mendukung kemandirian energi nasional.
