Kreta, Yunani, 30 April 2026 – Angkatan laut Israel menyerang armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan internasional dekat Pulau Kreta pada 29-30 April 2026, menyita tujuh dari 58 kapal yang membawa bantuan ke Gaza. Insiden ini memicu kecaman global atas dugaan pelanggaran hukum laut, dengan GSF menudingnya sebagai “penculikan” di tengah blokade Gaza sejak 2007.
Rekaman video menunjukkan pasukan Israel naik ke kapal dengan kapal cepat, memerintahkan kru duduk dengan tangan terangkat, mengganggu komunikasi, dan mengarahkan kapal ke Israel. Armada yang berlayar dari Barcelona sejak April awal dicegat sekitar 1.000 km dari Gaza, dengan 22 kapal lain dilaporkan terdampak.
GSF menyebut aksi Israel sebagai pembajakan ilegal dan sabotase misi kemanusiaan, bersumpah melanjutkan perjuangan “Sumud” (keteguhan Palestina). Juru bicara Gur Tsabar menegaskan komitmen membuka akses bantuan meski kapal disita.
Sekitar 211 aktivis dari 48 negara “diculik”, meski Israel klaim 175 orang ditahan dan sebagian dilepas setelah deportasi. Termasuk tokoh seperti Greta Thunberg dan Mandla Mandela dari misi sebelumnya, meski detail 2026 belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Sementara belum ada laporan spesifik penangkapan tokoh Indonesia terkenal seperti selebriti politik atau ulama, walau dalam laman media sosial GSF yang berlayar tampak aktivis Chiki Fawzi ikut serta.
Armada membawa bantuan medis, obat-obatan, logistik, dan makanan untuk warga Gaza yang kelaparan, dengan misi utama menembus blokade Israel serta soroti krisis kemanusiaan. Terdiri dari 58-70 kapal dan hampir 1.000 relawan dari 70 negara, ini merupakan upaya advokasi global terbesar.
Pemerintah Italia tuntut pembebasan warganya, sementara Turki, Kolombia, Pakistan, dan Prancis kecam keras sebagai pelanggaran hukum internasional. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan aktivis global gelar aksi protes, mendesak intervensi PBB.
Foto : GSF
