Megenal Tarian Dewi Seribu Tangan

Warga Tionghoa kerap disuguhi penampilan tarian khas bernama Tari Dewi Seribu Tangan dalam setiap gelaran acara. Tarian Seribu Tangan atau dalam Bahasa mandarin disebut Qian Shou Guan Yin dulu dikenal sebagai tarian yang disuguhkan untuk hiburan kaisar. Kini, tarian tersebut bisa dinikmati oleh siapa saja terutama saat hari-hari besar masyarakat Tionghoa. Tarian ini juga sempat dihadirkan diatas panggung Pasar Taon Baroe di Kota Kasablanka pada 2018 silam.

Tarian Dewi Seribu Tangan mengimplementasikan sebuah keindahan dalam kehidupan. Karena terlahir pada zaman kerjaan Tiongkok, membuat alunan musik yang menyertainya lebih terdengar “kasar”, berwibawa, dan menggelegar. Setiap gerakan mengandung arti, seperti kekompakan, keharmonisan, keselarasan, serta kesakralan. Gerakan gemulai dan ritmis, ayunan tangan, gelengan kepala, liuk tubuh, menciptakan pemandangan harmonis yang memukau.

Selain memperlihatkan keindahan, tarian ini juga memiliki makna yang sangat dalam, karena bagi warga Tionghoa yang minoritas beragama Budha. Tarian ini bukan hanya sebagai pertunjukan atau tradisi tetapi ritual agama.

Dalam Tarian Seribu Tangan ada cerita yang terselip tentang Bodhisatwa Guan Yin, atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Dewi Kwan In. Guan Yin memiliki seribu tangan yang menandakan kemampuannya menolong orang-orang yang membutuhkan. Tiap tangannya dilengkapi dengan mata yang membuatnya mampu mengawasi dunia.

Bukan perkara mudah membawakan tarian ini. Butuh koordinasi yang baik antara satu penari dengan penari yang lainnya. Ketepatan para pemain membentuk posisi lengan dan tangan serta berdiri di belakang satu sama lain dalam kolom yang sempurna menjadi tantangannya. Jika satu penari kehilangan konsentrasi akan mengganggu konsentrasi penari yang lain. (VIA)

Related posts