Mengenal GeNose C19,Pendeteksi Covid-19 Buatan Dalam Negeri


Minggu (24/1/2021) Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau persiapan dan uji coba GeNose C19 di Stasiun Senen,Jakarta Pusat.

Apa itu GeNose C19? Gajah Mada Electric Nose COVID-19 atau GeNose C19 adalah alat pendeteksi virus COVID-19 yang dikembangkan para peneliti di Universitas Gajah Mada (UGM).

Mengutip dari laman UGM,Sabtu (26/12/2020), GeNose C19 dikembangkan oleh Prof.Dr.Eng Kuwat Triyana dan timnya. Tujuannya untuk alat screening Covid-19. “GeNose merupakan alat pendeteksian cepat Covid-19 melalui hembusan nafas yang aplikasinya terhubung dengan sistem cloud computing untuk mendapatkan hasil diagnosis secara real time. GeNose C19 juga mampu bekerja secara paralel melalui proses diagnosis yang tersentral di dalam sistem sehingga validitas data dapat terjaga untuk semua alat yang terkoneksi. GeNose C19 ini diharapkan dapat memutus penyebaran Covid-19 dengan biaya per uji lebih murah yakni Rp.15 ribu hingga Rp.25 ribu dan hasil tes lebih cepat diketahui. Yaitu kurang dari dua menit,” ucap Rektor UGM, Prof.Panut Mulyono.

Selain biaya yang lebih murah serta hasil tes yang lebih cepat diketahui apa lagi sih yang menjadi kelebihan GeNose C19? Menurut Panut Mulyono Alat tersebut mampu melakukan sekitar 120 kali pemeriksaan per hari, dengan estimasi per pemeriksaan 3 menit selama 6 jam.

Selain itu tingkat akurasi GeNose mencapai 97 persen dengan menggunakan 600 sampel data valid.Pengambilan sampel tes berupa embusan napas juga dinilai lebih nyaman, ketimbang menggunakan metode usap atau swab.

Lebih lanjut dikatakan Panut Mulyono, sebelum diproduksi secara masal, GeNose C19 sudah melewati uji coba terlebih dahulu dengan melibatkan 83 orang. Yakni 43 pasien positif Covid-19 dan 40 negatif Covid-19. “ Setelah diteliti ternyata embusan nafas orang yang sehat berbeda dengan nafas seorang yang terinfeksi Covid-19,” jelas Panut Mulyono.

Panut mengatakan, virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh seseorang akan menghasilkan volatile organic compounds atau senyawa organik mudah menguap yang khas. Senyawa organik mudah menguap itu juga terdapat dalam embusan napas seseorang. Senyawa organik inilah yang kemudian dideteksi oleh GeNose yang dilengkapi beberapa sensor yang bisa membentuk pola tertentu saat mendeteksi. Pola yang terbentuk itu bisa dibedakan berdasarkan kondisi kesehatan seseorang. Oleh karena itu, pola yang terbentuk dari embusan napas seorang yang terinfeksi Covid-19 akan berbeda dengan pola embusan napas orang sehat. Pola yang dihasilkan sensor tersebut dianalisis menggunakan sistem kecerdasan buatan, lalu bisa disimpulkan terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Panut dalam kesempatan tersebut juga mengatakan, setelah dilakukan uji coba, GeNose C19 didaftarkan ke Kemenkes untuk mendapatkan izin edar.” Dan alhamdulillah pada 24 Desember 2020, Kemenkes memberikan izin edarnya sehingga kami bisa memproduksi GeNose C19 secara masal,” tambah Panut Mulyono.

Panut berharap dengan adanya GeNose C19, penyebaran Covid-19 di Indonesia bisa semakin terdeteksi sehingga pemutusan Covid-19 di Indonesia bisa semakin terlaksana.(Hs)

Related posts