Mengenal Lebih Dalam 5 Suku di Indonesia yang Hampir Punah

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, oleh karena itu tidak heran jika Indonesia memiliki suku dan kebudayaan yang beragam. Tercatat melalui Sensus BPS 2010 (belum ada data terbaru mengenai hal ini) suku di Indonesia sudah mencapai 1.340 suku bangsa yang tersebar di 34 provinsi Indonesia. Namun, seiring berkembangnya jaman terdapat beberapa suku yang sudah tidak lagi terdengar atau bahkan asing dan hampir punah. Apa saja suku tersebut? Berikut kami sudah rangkum untuk Anda.

  1. Suku Mentawai – Sumatera Barat

Suku yang dinobatkan sebagai suku tertua yang ada di Indonesia ini, nyatanya sudah ada sejak tahun 500 sebelum masehi. Suku Mentawai yang menetap di kepulauan nusantara sebelah barat Indonesia ini memang dikenal sebagai salah satu suku yang pandai dalam meramu. Selain tinggal di kepulauan Mentawai, mereka juga ditemukan di pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan. Meski pintar dalam meramu, namun nyatanya masyarakat di suku Mentawai sama sekali tidak pandai dalam bercocok tanam. Jika di Indonesia dikenal dengan enam jenis agama, tidak dengan di suku Mentawai yang mayoritas penduduknya masih menganut kepercayaan Sabulungan yang mana mereka menyembah suatu benda yang dipercayai memiliki roh dan jiwa. Masyarakat suku Mentawai juga hidup di dalam rumah yang dinamakan uma. Uma terkenal karena dibuat tanpa menggunakan paku, melainkan hanya menggunakan pasak kayu sebagai pengkokoh bangunan. Namun kini sudah hampir tidak dapat ditemukan uma di kepulauan Mentawai, hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah untuk merelokasi uma karena umurnya yang sudah tua dan dapat membahayakan bagi masyarakat suku Mentawai yang tinggal di dalamnya.

Dalam kalangan peneliti masih dipertanyakan bagaimana asal usul suku Mentawai, ada yang menyebut mereka berasal dari ras polinesia atau ras proto Malaysia yang merupakan salah satu suku Melayu tua. Masyarakat di suku Mentawai juga dikenal dengan adat istiadat mereka dalam mentato seluruh tubuh yang menandakan peran dan status sosial mereka di dalam masyarakat. Bagi gadis-gadis di suku Mentawai juga dikenal istilah tradisi kerik gigi, yang mana perempuan suku Mentawai jika beranjak dewasa diharuskan untuk mengerik giginya sebagai simbol perjuangan menemukan jati diri. Saat ini populasi suku Mentawai sudah bisa dikatakan semakin berkurang, hal ini dikarenakan daerah tinggal mereka yang berupa hutan banyak dijadikan bahan eksploitasi oleh manusia perkotaan yang kurang bertanggung jawab.

  1. Suku Anak Dalam – Jambi

Suku anak dalam atau yang dikenal juga sebagai suku kubu atau orang rimba dikenal sebagai salah satu suku mayoritas di Indonesia karena hanya memiliki sekitar 200.000 populasi yang tersebar di provinsi Jambi. Menurut tradisi suku anak dalam merupakan orang Maalau Sesat yang berpindah ke daerah hutan rimba disekitar Air Hitam, Sarolangun, Jambi yang kemudian mereka diberi nama Moyang Segayo. Namun ada juga yang mengatakan bahwa suku anak dalam berasal dari Pagaruyung karena hal ini diperkuat dengan fakta bahwa bahasa yang digunakan oleh suku Anak Dalam sama dengan suku Minangkabau, yakni bahasa Melayu. Adat istiadat yang serupa yakni sistem keturunan yang menganut sistem matrilineal (garis keturunan yang berasal dari pihak perempuan atau ibu).

Sedangkan untuk adat istiadat lainnya, setiap anak laki-laki yang sudah menikah diharuskan untuk tinggal di lingkungan kerabat istrinya hal ini dikarenakan sistem keturunan suku Anak Dalam yang menganut matrilineal. Tidak hanya itu, suku Anak Dalam juga mengelompokan keluarganya dalam istilah keluarga kecil dan keluarga besar yang mana keluarga kecil berisikan suami-istri dan anak-anak yang belum menikah, sedangkan keluarga besar terdiri dari suami-istri dan para anak yang sudah menikah dan berkeluarga. Biasanya keluarga kecil tinggal di dalam satu pondok dan di satu lingkungan bisa terdapat dua sampai tiga pondok yang berisikan keluarga kecil. Kepercayaan yang dianut oleh suku Anak Dalam juga masih terbilang primitif, yakni mereka masih mempercayai roh ataupun makhluk halus yang menempati suatu tempat atau benda.

  1. Suku Samin – Bojonegoro

Tersebar di sekitaran daerah Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur suku Samin dipercayai merupakan keturunan masyarakat yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko yang juga merupakan seorang keturunan bangsawan. Suku Samin memiliki paham anti radikalisme alias menolak seluruh ajaran pemerintah Belanda, pada awalnya Belanda tidak melarang adanya aliran atau suku Samin ini tetapi kemudian di tahun 1907 pemerintah Belanda mengasingkan Samin Suresentiko dan delapan orang pengikutnya ke daerah di luar Jawa, setelah sebelumnya Samin diangkat menjadi Ratu Adil oleh pengikutnya. Hingga kemudian Samin meninggal di Padang, Sumatera Barat pada 1914.

Suku Samin dikenal memiliki lima ajaran yang dipegang teguh, yakni tidak bersekolah, tidak memakai peci melainkan memakai iket (semacam kain yang di ikatkan ke kepala), tidak berpoligami, tidak memakai celana panjang dan tidak berdagang. Mengenai alasan mengapa suku Samin tidak berdagang karena menurut mereka di dalam proses berdagang mungkin muncul ketidakjujuran yang merupakan salah satu paham penting juga bagi suku Samin, yakni kejujuran. Agama yang dianut di suku Samin juga tidak terbatas jumlahnya dikarenakan para leluhur tidak membatasi para pengikutnya untuk memiliki suatu agama tertentu.

  1. Suku Togutil – Halmahera

Suku Togutil juga merupakan salah satu suku primitif tertua yang ada di Indonesia, suku ini menempati sebagian besar wilayah  sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli yang termasuk dalam  Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Halmahera Utara, Maluku Utara. Namun suku Togutil ini tidak ingin mereka disebut dengan “Togutil” karena dalam bahasa Tobalo memiliki arti terbelakang, oleh karena itu nama lain untuk suku ini ialah suku Tobelo Dalam. Perawakan muka masyarakat suku Togutil juga tidak sama seperti wajah orang Maluku pada umumnya, karena diketahui suku Togutil juga memiliki darah keturunan orang China, India dan Portugis. Dalam kehidupan sehari-hari suku ini selalu berpindah-pindah tempat alias nomaden dan memanfaatkan sumber daya alam seperti tumbuhan dan berbagai jenis hewan untuk dijadikan santapan mereka.

Karena hidup secara nomaden, maka mereka hidup secara berkelompok disekitaran sungai Dodaga. Diketahui jumlah suku Togutil mencapai 42 kepala rumah tangga, namun sampai saat ini tidak diketahui persis berapa jumlahnya. Dikarenakan mereka hidup disekitaran sungai, maka suku ini dikelompokan berdasarkan daerah aliran sungai yang mereka tempati seperti suku Togutil Akijira yang hidup di Halmahera Tengah dan suku Togutil Dodaga yang berada di Halmahera Timur. Yang menjadikan suku ini unik, ialah setiap anak yang lahir akan diberi nama sesuai dengan nama pohon yang berada disekitaran mereka dan apabila ada anggota keluarga yang meninggal, maka jasadnya akan disenderkan ke pohon hingga membusuk atau mengering dengan sendirinya. Namun tradisi ini perlahan berubah semenjak suku Togutil sudah mulai mengenal agama.

  1. Suku Sakai- Riau

Suku Sakai merupakan salah satu penduduk asli di pedalaman Riau dan juga merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. Beberapa ahli ada  yang berpendapat bahwa suku Sakai merupakan percampuran antara orang Weddoid (ras yang berasal dari negara Hindia Selatan) dan Minangkabau. Namun orang Sakai sendiri mempercayai mereka berasal dari Pagaruyung yang merupakan kerajaan Melayu yang ada di Sumatera Barat. Suku Sakai ini juga memiliki pola kehidupan yang hampir sama dengan suku primitif lainnya, yakni mereka masih hidup secara nomaden. Mereka juga menciptakan pakaian dan alat rumah tangga dengan menggunakan sumber daya alam, seperti pohon kayu yang digunakan untuk membuat pakaian dan kulit kerbau untuk membuat timo (wadah yang biasa digunakan untuk menampung madu).

Karena seiring perkembangan jaman, suku Sakai kini banyak yang memeluk agama Islam namun masih banyak juga orang di suku Sakai yang memiliki kepercayaan animism, yakni kepercayaan terhadap makhlus halus dan kekuatan magis. Suku Sakai menyebut makhluk halus yang mereka percayai sebagai Antu yang juga memiliki kehidupan seperti manusia dan tinggal secara berkelompok ditengah hutan belantara yang tidak adapat dijangkau oleh manusia. Untuk bertahan hidup suku Sakai juga sama seperti suku primitif lainnya, yakni mereka bercocok tanam dan berburu. Untuk bercocok tanam mereka memiliki suatu aturan adat yang tidak boleh dilanggar jika tidak ingin tunbuhan yang mereka tanam rusak dimakan hama. Namun kini dikarenakan jumlah hutan di Riau yang semakin berkurang dikarenakan pembalakan liar ataupun dijadikan kawasan industri, suku Sakai banyak mengungsi keluar daerah Riau, salah satunya yakni daerah Jambi. (qra.Foto : istimewa)

 

Related posts

Leave a Comment