OJK: Jumlah Investor Indonesia Terus Naik, Capai 24,7 Juta per Maret 2026

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta pembukaan Pekan Reksa Dana 2026 di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor di Indonesia per Maret 2026 tumbuh signifikan hingga mencapai 24.744.221.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta pembukaan Pekan Reksa Dana 2026 di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4).

“Jumlah investor Indonesia terus tumbuh pada angka yang sangat signifikan yaitu pada angka 24,744,221. Ini merupakan hasil kerja keras dari pemerintah, SRO, OJK dan juga seluruh pelaku pasar di Indonesia,” kata Friderica.

Dari total tersebut, sebanyak 23.497.884 merupakan investor reksa dana. Angka ini tumbuh 22,43 persen dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.

“Dan juga yang menarik adalah ini dari 24 juta itu, investor reksa dana ada 23.497.884. Ini tumbuh 22,43 persen dibandingkan dengan akhir tahun,” ucapnya.

Selain itu, komposisi investor didominasi oleh investor lokal yang mencapai 99,82 persen. Menariknya, lebih dari separuh investor pasar modal, yakni sebesar 54,71 persen, berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.

Melihat momentum pertumbuhan ini, OJK menilai perlu adanya program nasional untuk mendorong investasi yang dilakukan secara terencana dan berkala, salah satunya melalui Program PINTAR.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas, kebutuhan investasi nasional periode 2025–2029 mencapai Rp47.573,45 triliun.

“Tentu ditengah kapasitas utama pendanaan dari  APBN, maka pasar modal tidak terkecuali melalui instrumen saham, obligasi dan lain-lain diharapkan juga turut berkontribusi. Angka targetnya ada di sekitar 3,81 persen atau setara dengan dukungan Rp1.812.55 Triliun,” kata dia.

Menurut Hasan, hal ini mencerminkan besarnya potensi pasar modal sebagai salah satu pilar utama dalam mendukung pembiayaan ekonomi nasional Indonesia.