Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Himbau Larangan Mudik


Esok hari (6/5/2021) merupakan hari pertama pelarangan mudik. Menyikapi hal ini Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) langsung menggelar konferensi pers secara virtual melalui aplikasi zoom pada Rabu (5/5/2021).

Dalam konferensi pers tersebut, Ketua PDPI DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR mengatakan bahwa PDPI mendukung sekali pelarangan pemerintah terkait mudik. Menurut Dr.Agus, pelarangan ini bertujuan untuk menekan angka penularan COVID-19 di masyarakat, yang umumnya terjadi pelonjakan seiring dengan momen berkumpul massa dan/atau meningkatnya mobilitas penduduk seperti telah terjadinya klaster perkantoran, klaster buka puasa bersama, Klaster
Takziah, bahkan sudah adanya Klaster Mudik di Pati, Jawa Tengah pada akhir April
lalu.


“Pada Idul Fitri 1441 Hijriyah tahun lalu, dapat kita lihat tren kenaikan kasus 14 hari setelah hari Idul Fitri dengan kenaikan Laju Positif Harian yang meningkat. Hal ini menunjukkan penyebaran COVID-19 yang semakin luas dan tidak terkontrol. Pelajaran yang mahal sudah kita dapatkan dari India, di mana sebelumnya diketahui adalah salah satu negara dengan Testing, Tracing, dan Treatment (3T) terbaik di dunia. Akan tetapi, akibat kelalaian dengan adanya acara-acara kumpul masa sejak bulan
Maret hingga April lalu, termasuk kampanye politik saat pemilihan kepala daerah, pertandingan kriket internasional, hingga acara keagamaan Kumbh Mela, kasus baru di India memecahkan rekor dunia kasus baru harian yang mencapai angka lebih dari 400.000 dan menyebabkan kolapsnya sistem kesehatan di negaranya,” jelas Dr.Agus.


Lebih lanjut dikatakan Dr.Agus, Melirik perilaku masyarakat 2 minggu ke belakang, dengan semakin kentalnya suasana Ramadan, semakin banyak pula kegiatan-kegiatan kumpul massa seperti buka puasa bersama, berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, hingga mudik ke kampung halaman yang sayangnya dilakukan tanpa kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang baik. Hal ini dikhawatirkan menjadi potensi terjadinya ledakan kasus baru COVID-19, seperti yang sudah terjadi di India.Jangan sampai tragedi di India terulang di Indonesia, apalagi sudah terdeteksi 10 kasus varian baru di Indonesia. “ Kita belum mengetahui secara persis sifat varian baru ini, apakah varian tersebut dapat meningkatkan penularan, atau dapat menurunkan efektivitas vaksin atau meningkatkan keparahan manifestasi COVID-19. Seluruh masyarakat tidak boleh lengah hanya karena jumlah kasus baru sempat turun, atau karena sudah divaksin. Karena jika kita lengah sedikit saja, ancaman gelombang
kedua dari pandemi COVID-19 di Indonesia dapat menjadi kenyataan. Jangan sampai
terlena, kasus baru COVID-19 di Indonesia bisa kembali naik! dan bisa terus melonjak
apabila kita lengah dan tidak konsisten menjalankan protokol kesehatan,” jelasnya.

Untuk itulah dirinya mengajak segenap warga negara Indonesia untuk mengedepankan kepentingan kemanusiaan dan ikut berkontribusi menekan angka penularan dengan:

1. Tetap melaksanakan protokol kesehatan 5M (Memakai masker; Mencuci tangan
secara teratur; Menjaga jarak; Menjauhi kerumunan; serta Membatasi mobilisasi
dan interaksi).

2. Menjalani imunisasi/vaksinasi COVID-19.

3. Tetap mematuhi protokol Kesehatan 5 M walaupun sudah divaksin.

4. Melakukan silaturahmi Idul Fitri secara virtual atau daring dan taat kepada
aturan dilarang mudik.

5. Setiap individu masyarakat mengambil peran pencegahan dan saling mengingatkan untuk mengatasi pandemi COVID-19

6. Tetap waspada dengan besarnya potensi gelombang kedua COVID-19 di Indonesia.(Hs.Foto.Hs)

Related posts