Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon, Putra Deli Serdang yang Syahid Menjaga Perdamaian

Beirut, Gpriority.co.id – Indonesia berduka kembali kehilangan seorang prajurit terbaik bangsa. Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, yang akrab disebut Kopral Rico, mengembuskan napas terakhir pada Jumat (24/4) di sebuah rumah sakit di Beirut, Lebanon, setelah hampir sebulan menjalani perawatan intensif akibat luka serius dalam serangan di Lebanon Selatan.

Kopral Rico Pramudia lahir pada 1 Juli 2000 di Sumberejo, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Sugianto dan Arbia, dan dikenal sebagai sosok yang sederhana, tekun, serta memiliki semangat pengabdian tinggi kepada negara.

Rico bertugas sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL. Ia ditempatkan di pos penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa‑Bangsa, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), di wilayah Adchit Al‑Qusayr, Lebanon Selatan, tepat di garis perbatasan konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah.

Pada malam 29 Maret 2026, pangkalan UNIFIL tempat Rico bertugas dihantam ledakan proyektil artileri, diduga dalam serangan yang terkait dengan eskalasi konflik Israel–Hezbollah. Dalam insiden tersebut, Rico mengalami luka parah dan langsung dilarikan ke rumah sakit di Beirut untuk mendapat perawatan intensif.

Selama hampir satu bulan, Rico menjalani perawatan di rumah sakit Beirut dalam kondisi kritis. Meski berbagai upaya medis telah dikerahkan, tubuhnya tak mampu lagi menahan beban luka sehingga ia menghembuskan napas terakhir pada 24 April 2026. Dengan gugurnya Rico, jumlah prajurit TNI yang meninggal dalam rangkaian insiden kekerasan di Lebanon pada Maret–April 2026 menjadi empat orang.

Pernyataan UNIFIL dan Kementerian Pertahanan

Pihak UNIFIL mengumumkan wafatnya Kopral Rico Pramudia lewat pernyataan resmi di platform X (Twitter). “UNIFIL menyesalkan wafatnya Kopral Rico Pramudia hari ini, yang terluka parah akibat ledakan proyektil di pangkalan tempatnya bertugas di Adchit Al Qusayr pada malam 29 Maret. Kopral Pramudia, 31 tahun, meninggal dunia secara tragis akibat luka‑lukanya di sebuah rumah sakit di Beirut,” demikian pernyataan UNIFIL.

Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa serangan yang disengaja terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. UNIFIL menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga Rico, TNI, pemerintah, serta rakyat Indonesia atas kehilangan yang tragis dan tak tergantikan.


Kementerian Pertahanan Indonesia dalam keterangan resminya menyatakan, “Gugurnya Praka Rico Pramudia dalam pelaksanaan misi perdamaian dunia bersama UNIFIL di Lebanon Selatan menjadi duka yang mendalam. Almarhum wafat setelah menjalani perawatan akibat luka yang dialami dalam penugasan.” Pernyataan itu menegaskan bahwa pengabdian dan pengorbanan Rico dalam menjaga perdamaian dunia menjadi kehormatan bagi bangsa Indonesia.

Kopral Rico Pramudia kini dimakamkan dengan penghormatan penuh sebagai pahlawan di Taman Makam Pahlawan Tebing Tinggi, Sumatera Utara, sebagai bentuk penghormatan negara atas pengabdian dan syahidnya dalam misi penjaga perdamaian. Istri Rico, Yulia Putri, dan seorang anak laki‑laki yang masih balita kini menjadi pewaris langsung dari jejak pengorbanan seorang prajurit yang rela mengemban misi di medan konflik demi kedamaian dunia.

Foto : UNIFIL