Program MBG Bermasalah, 1.780 SPPG Disetop BGN

Salah satu SPPG BGN. Foto Biro Hukum dan Humas BGN Salah satu SPPG BGN. Foto Biro Hukum dan Humas BGN

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional 1.780 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan dan memastikan standar kesehatan pangan terpenuhi bagi jutaan penerima manfaat program MBG (Makan Bergizi Gratis).

Dilansir dari laporan ANTARA pada Jumat (24/4), Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa penghentian sementara tersebut ditujukan bagi SPPG yang belum memenuhi persyaratan dasar, terutama terkait sanitasi dan administrasi.

“SPPG yang tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau belum daftar Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), kita hentikan dulu sementara,” ujarnya.

Dadan menegaskan, SPPG yang sudah mendaftar sertifikasi namun belum mendapatkan hasil dalam kurun waktu tertentu tetap akan disuspensi.

“Ketika sudah daftar SLHS tapi satu bulan belum keluar sertifikatnya, kita hentikan sementara,” kata Dadan.

Langkah ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG yang kini telah berjalan secara masif di berbagai daerah.

Dari total sekitar 26.800 unit SPPG yang ada, sebanyak 1.780 unit dihentikan sementara. Namun, angka tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah seiring proses perbaikan yang dilakukan di lapangan.

“Jadi sangat dinamis, sehingga sekarang ada sekitar 1.780 (SPPG) yang kita hentikan sementara. Mungkin dalam seminggu, dua minggu akan berubah juga angkanya,” ucap Dadan.

Selain penghentian sementara, BGN juga memperkuat sistem pengawasan dengan melibatkan inspektorat untuk menangani berbagai persoalan teknis secara lebih rinci. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program sesuai target pemerintah pada 2026.

Sebagai catatan, kebijakan penghentian sementara ini bukan berarti menghentikan program secara keseluruhan, melainkan menjadi bagian dari proses pembenahan. Pemerintah menekankan bahwa kualitas lebih penting dibandingkan sekadar kuantitas distribusi makanan.

Dengan pengawasan yang diperketat dan evaluasi berkelanjutan, diharapkan seluruh SPPG dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut penting agar program MBG benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pertumbuhan dan kesehatan anak-anak Indonesia.

Disisi lain, langkah tegas ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan program nasional tidak hanya ditentukan oleh skala, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjaga mutu dan keamanan layanan.