Jakarta, GPriority.co.id – Perjalanan ibadah haji selalu menyimpan cerita menyentuh. Dari mengajarkan kesabaran, kesiapan, hingga keyakinan. Tak terkecuali dengan momen Haji 2026.
Namun yang paling menjadi sorotan adalah dua cerita momen haji 2026 yang memperlihatkan bahwa usia bukan menjadi penghalang untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci.
Cerita pertama datang dari Muhammad Aem, seorang pensiunan guru agama berusia 69 tahun asal Tangerang. Ia rela menunggu hingga usia senja untuk memenuhi panggilan haji setelah menanti 13 tahun lamanya.
Dalam laporan Republika, Aem menyebut penantian panjang itu akhirnya terbayar ketika ia berangkat bersama istrinya, Masroni, yang berusia 62 tahun dan setia mendampinginya.
Perjalanan Aem bukan hanya mencerminkan ketekunan, namun juga kesederhanaan. Selama 37 tahun mengabdi sebagai guru agama, ia menabung sedikit demi sedikit demi bisa berangkat haji.
Meski usianya tak lagi muda, Aem tetap mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia bahkan membawa kursi lipat untuk membantu istrinya jika kelelahan.
Kondisi fisik yang menurun tidak menyurutkan tekadnya. Ia memilih realistis dalam menjalankan ibadah.
“Yang penting rukun sama yang wajib. Kalau yang sunnah bisa dikerjain, ya dikerjain,” katanya.
Bagi Aem, haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang penuh harapan.
“Semoga dapat keberkahan di usia tua ini… supaya tutup usia dalam keadaan husnul khatimah,” ujarnya lirih.
Sementara itu, cerita berbeda datang dari Syafina Marwa, remaja berusia 13 tahun asal Tangerang. Ia menjadi salah satu jemaah haji termuda tahun ini.
Ia berangkat bersama ayahnya dalam kloter pertama dari Embarkasi Banten. Meski masih sangat muda, Syafina mengaku telah menyiapkan diri secara mental untuk menjalani rangkaian ibadah haji.
“Deg-degan, seneng, campur aduk lah. Seneng sih, pada kaget juga,” katanya dikutip dari kumparan.
Keberangkatan Syafina bukanlah kebetulan. Ayahnya, Tommy Hartoyo, telah mendaftarkannya sejak masih bayi. Tommy mengaku alasan mendaftarkan anaknya sejak kecil sederhana, yakni agar bisa menjalankan rukun Islam.
“Ya sempat terpikir aja, biar menjalankan rukun Islam,” tutur Tommy. Keputusan tersebut kini berbuah manis dengan keberangkatan mereka bersama keluarga ke Tanah Suci.
Dua kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing. Baik melalui perencanaan sejak dini maupun perjuangan panjang penuh kesabaran, semua bermuara pada satu tujuan suci.
