Jakarta, GPriority.co.id – Memiliki atasan yang sulit memang umum terjadi, tetapi jika anda bekerja di bawah bos narsistik, dampaknya bisa jauh lebih serius. Perilaku manipulatif dan egois dari pemimpin seperti ini tidak hanya memengaruhi performa kerja, tetapi juga berisiko merusak kesehatan mental hingga fisik karyawan.
Pada awalnya, tipe atasan ini sering terlihat karismatik, percaya diri, dan tampak sejalan dengan nilai-nilai tim. Namun di balik itu, mereka kerap memiliki agenda tersembunyi untuk mengontrol dan memanfaatkan kelemahan karyawannya.
Sebagaimana dilansir dari laporan NY Post pada Selasa (24/3), beberapa ciri toxic leadership atau atasan yang narsistik antara lain sering menyalahkan orang lain atas kegagalan, mengambil kredit atas kerja tim, memberikan kritik berlebihan (hypercritical), menetapkan target yang tidak realistis, hingga kurang empati terhadap bawahan.
Perilaku ini termasuk dalam kategori toxic leadership yang dapat menurunkan rasa percaya diri dan harga diri karyawan secara bertahap.
Tekanan emosional yang terus-menerus akibat bos toxic dapat menyebabkan stres kronis. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan bisa berkembang menjadi gangguan serius seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
Adapun gejala yang sering muncul antara lain seperti kecemasan yang berlebih, mudah marah dan tersinggung, perasaan malu atau tidak berharga, depresi hingga pikiran untuk menyakiti diri.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kepemimpinan narsistik meningkatkan stres kerja dan menurunkan kesejahteraan karyawan secara keseluruhan.
Namun, dampak bos narsistik tidak berhenti pada kesehatan mental. Stres berkepanjangan dapat memicu gangguan fisik karena tubuh terus berada dalam kondisi “siaga”.
Akibatnya, karyawan bisa mengalami kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan daya tahan tubuh, hingga masalah kesehatan lain akibat stres. Kondisi ini terjadi karena sistem saraf terus berada dalam mode stres tanpa waktu pemulihan yang cukup.
Untuk mengurangi efek buruk dari lingkungan kerja yang tidak sehat, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
– Menjaga keseimbangan hidup (work-life balance)
– Melakukan aktivitas relaksasi dan olahraga rutin
– Membangun hubungan sosial yang positif
– Mencatat perilaku abusif sebagai bukti
– Mencari bantuan profesional seperti terapi psikologis
Lewat pendekatan ini, dapat membantu menenangkan sistem saraf dan memulihkan kondisi mental secara bertahap.
Sebagai catatan, lingkungan kerja yang sehat bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga tentang menjaga kesejahteraan mental dan fisik dalam jangka panjang.
