PUPR Kebut 3 Tambahan Pembangunan Venue PON XX Papua 2021


Wakil Menteri PUPR John Wempi Wetipo melakukan peninjauan venue Pekan Olahrga Nasional (PON) XX di Provinsi Papua tahun 2021. Hadir dalam tinjauan Wamen, antara lain Anggota Badan Pemerika Keuangan (BPK) RI IV Isma Yatun, Direktur Prasarana Strategis Ditjen Cipta Karya Iwan Suprianto, Kepala BPPW Papua Corneles Sagrim.

Kementerian PUPR telah menyelesaikan empat venue utama dalam pelakasanaan PON XX di Provinsi Papua tahun 2021 yakni arena Aquatic dan Istora Papua Bangkit di Kawasan olahraga Kampung Harapan dean venue Cricket den lapangan Hockey (indorr dan outdoor) di kompleks olahraga Doyo Baru. Keempatnya sudah diserahterimakan kepada Pemerintah Provinsi Papua. Dan Kembali mendapat tugas ) mendapat tugas membangun 3 venue tambahan untuk mendukung pelaksanaan PON XX di Provinsi Papua tahun 2021. Ketiga arena olahraga tersebut adalah venue Sepatu Roda, Dayung, dan Panahan yang saat ini sudah dalam tahap akhir konstruksi dan ditargetkan selesai seluruhnya pada 31 Juli 2021.

Pembangunan ketiga venue tambahan tersebut mulai dikerjakan Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Papua, Ditjen Cipta Karya sejak 25 Februari 2020 dengan progres seluruhnya hingga 17 Juni 2021 mencapai mencapai 92,40%.

Pembangunan venue tambahan untuk Arena Sepatu Roda dibangun di atas lahan seluas 26.520 m2 dengan luas bangunan 6.067 m2 di daerah Bumi Perkemahan Waena, Kota Jayapura. Beberapa sarana dan prasarana pendukung venue selesai dikerjakan seperti tribun berkapasitas 650 orang, sistem penerangan untuk lintasan 1.501 lux dan penerangan safe zone 449 lux, sistem tata suara, dan scoring board. Secara keseluruhan progres konstruksi Arena Sepatu Roda mencapai 98,59%.

Kemudian arena olahraga Dayung dibangun tidak jauh dari Jembatan merah Youtefa yang membentang di atas Teluk Youtefa. Pekerjaan venue Dayung diawali dengan pembangunan pengaman pantai berupa reklamasi seluas 10.000 m3 oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua, Ditjen Sumber Daya Air. Selanjutnya di area reklamasi dibangun gudang perahu seluas 1.750 m2, ponton modular 521 m2, gangway 2 unit, dan 1 unit menara finish setinggi 14,4 meter. Sementara di area perairan dipasang 1 unit menara start, 5 unit menara pantau, 8 unit penanda jarak, 8 unit pancang penahan, dan 2 unit obstacle canoe slalom.

Lintasan dayung dibangun sepanjang 2.200 meter dengan lebar 81 meter (9 lintasan) dengan kontraktor pelaksana PT Nindya Karya (Persero) menggunakan biaya APBN sebesar Rp 16,9 miliar. Saat ini progres pembangunan venue Dayung PON Papua sudah mencapai 52,6%.

Terakhir Arena Panahan dibangun di kawasan kompleks olahraga Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Venue ini dibangun di atas lahan seluas 40.863 m2 dan memiliki luas bangunan 1.217 m2 dengan landsekap pegunungan Cycloop yang menjadi daya tarik arena Panahan PON Papua.

Lokasi venue Panahan dilengkapi lapangan bertanding seluas 10.100 m2 dan lapangan latihan seluas 8.207 m2. Di mana pada lapangan tanding dilengkapi sistem pembuangan air di bawah lapangan, penerangan, dan tata suara. Saat ini progres keseluruhan pembangunan venue Panahan mencapai 99,68%.

Wakil Menteri PUPR John Wempi Wetipo dalam siaran pers pupr pada Senin (21/6/2021) berpesan agar dalam menyelesaikan pembangunan di sisa waktu kurang dari dua bulan ke depan tetap memperhatikan mutu dan kualitas . “Kita harapkan 3 venue yang masih dalam tahap pembangunan dapat selesai sesuai target akhir Juli 2021. Kerja lebih keras sampai pelaksanaan PON XX tetapi tetap menjaga kualitas,” ujar Wamen Wempi di Jayapura, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti mengingatkan untuk memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri untuk bahan material pembangunan ketiga venue. “Saya berpesan utamakan menggunakan produk dalam negeri, jangan terlalu cepat untuk mengimpor bahan material jika masih ada produk dalam negeri. Tadi disampaikan untuk beberapa komponen ada yang impor, tetapi masih dalam taraf wajar. Misalnya lintasan Sepatu Roda dari Korea, tetapi secara keseluruhan perbandingannya masih 70% produk dalam negeri,” tutup Diana Kusumastuti.(Sof.Foto.Istimewa)

Related posts