Lebanon, GPriority.co.id – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah tentara Israel dilaporkan menghancurkan kamera pengawas milik Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon atau UNIFIL.
Insiden ini terjadi di markas besar UNIFIL di Naqoura, Lebanon selatan, dan memicu kekhawatiran serius terkait keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah konflik tersebut.
Menurut Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, tindakan tersebut dilakukan oleh tentara Israel dalam beberapa hari terakhir.
“Tentara Israel menghancurkan semua kamera pengawas yang menghadap markas besar pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon selatan,” ujar Ardiel.
Menurut Ardiel, penghancuran kamera pengawas dimulai sejak Jumat dan menyasar seluruh perangkat yang berfungsi menjaga keamanan fasilitas UNIFIL.
“Sejak Jumat, tentara Israel telah menghancurkan semua kamera yang membantu memastikan keselamatan dan keamanan personel militer dan sipil di dalam markas UNIFIL di Naqoura,” jelasnya.
Tindakan tersebut dinilai sangat berbahaya karena kamera pengawas merupakan bagian penting dalam sistem keamanan markas, terutama di wilayah yang rawan konflik bersenjata.
Menanggapi insiden ini, UNIFIL menyatakan keprihatinan mendalam dan memutuskan untuk mengambil langkah diplomatik.
“UNIFIL menyatakan keprihatinan serius atas tindakan Israel itu dan memutuskan untuk mengajukan protes resmi,” kata Ardiel.
Ia juga mengingatkan bahwa Israel memiliki kewajiban internasional untuk melindungi personel dan fasilitas milik PBB.
“(Israel) wajib memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB serta menghormati fasilitas PBB,” tegasnya.
Dalam perkembangan terkait, UNIFIL juga mengungkap adanya korban akibat konflik yang terus berlangsung di Lebanon selatan.
Ardiel menyebut bahwa tiga penjaga perdamaian PBB asal Indonesia mengalami luka-luka akibat ledakan di dekat fasilitas PBB di wilayah El Adeisse.
“Dalam pernyataan terpisah, ia mengonfirmasi bahwa tiga penjaga perdamaian PBB asal Indonesia terluka, dua di antaranya serius,” ungkapnya.
Insiden ini semakin mempertegas risiko tinggi yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di kawasan tersebut.
