Amerika Serikat, GPriority.co.id – Setelah berkonflik dengan Venezuela, kini AS berhapan dengan Iran. Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan para pemimpin Iran telah menghubunginya untuk bernegosiasi setelah pihaknya memberikan ancaman militer.
Saat protes menyebar ke seluruh negeri di tengah keruntuhan ekonomi Iran, Trump mendukung para demonstran dan memberi peringatan bahwa dirinya akan menyerang Teheran.
Jika anda melewatkannya, berikut ini timeline konflik AS-Iran, sebagaimana dirangkum dari AFP News.
Ekonomi Iran Runtuh, Rakyat Protes Turun ke Jalan
Rakyat Iran turun ke jalan di tengah runtuhnya ekonomi negara tersebut pada awal Desember lalu. Aksi protes semakin intensif dengan tuntutan untuk menggulingkan pemimpin tertinggi negara dan mengakhiri rezim yang ada. Putra Mahkota Iran yang diasingkan dan putra Shah, Reza Pahlavi, juga mengisyaratkan akan kembali ke Iran.
Trump Nyatakan Siap Tempur
Trump kemudian mengeluarkan peringatan besar pertamanya di tengah protes yang berlangsung di Iran pada 2 Januari lalu. Ia menyatakan bahwa jika Iran membunuh demonstran secara brutal (yang menjadi kebiasaan mereka), Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan mereka. Di media sosialnya, Truth Social, Trump menyatakan “siap siaga dan siap bertindak.”
Trump: ‘Kami Juga Akan Mulai Menembak’
Pada tanggal 8-9 Januari, ketika protes semakin intensif, Trump mengatakan bahwa tampaknya para pemimpin Iran dalam masalah besar. Dia memperingatkan bahwa jika militer Iran menembak para demonstran, maka Amerika juga akan menembak mereka.
“Lebih baik kalian jangan mulai menembak karena kami juga akan mulai menembak,” ujar Trump.
Trump Puji Aksi Para Demonstran
Saat aksi protes telah menyebar ke lebih dari 100 kota, pada tanggal 9 Januari Trump kemudian memuji para demonstran. Dengan berbicara langsung kepada warga Iran, ia berkata, “Kalian adalah orang-orang pemberani. Sungguh memalukan apa yang telah terjadi pada negara kalian.”
AS Akui Siap Membantu
Dalam sebuah unggahan di Truth Social pada 10 Januari, Trump mengatakan bahwa Iran sedang menantikan kebebasan yang mungkin tidak seperti sebelumnya. Ia menambahkan bahwa AS siap membantu.
Presiden Iran Sebut AS dan Israel Perkeruh Suasana di Negaranya
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel menjadi biang kerusuhan di negaranya. Hal ini ia sampaikan dalam pidato kebangsaan di hari Minggu, 11 Januari.
Pezeshkian menilai AS dan Israel bersama-sama ingin menciptakan kekacauan dan ketidaktertiban di negaranya dengan mendesak warga Iran menjauhkan diri dari perusuh dan teroris.
Pezeshkian pun mencoba meyakinkan warga Iran bahwa pemerintah akan memperhatikan tuntutan dan kekhawatiran mereka, dengan menekankan bahwa perusuh tidak boleh dibiarkan mengganggu masyarakat.
Trump: ‘AS Akan Menghantam Mereka Dengan Sangat, Sangat Keras’
Ketika spekulasi tentang kemungkinan serangan AS semakin meluas, Trump pada 11 Januari mengklarifikasi bahwa keterlibatan mereka bukan berarti dengan mengerahkan pasukan darat, tetapi menyerang mereka dengan sangat, sangat keras di titik yang paling menyakitkan.
Ia juga memperingatkan bahwa jika Iran menyerang pangkalan AS sebagai balasan, AS akan “menyerang mereka pada tingkat yang belum pernah mereka alami sebelumnya.”
Trump Sebut Iran Ingin Bernegosiasi
Dalam sebuah pernyataan penting, Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu (11 Januari) mengatakan bahwa ia telah menyerukan “perundingan” setelah ancaman aksi militernya. Namun, ia menambahkan bahwa AS mungkin akan mengambil tindakan sebelum pertemuan tersebut.
“Para pemimpin Iran menelepon kemarin… sebuah pertemuan sedang diatur… Mereka ingin bernegosiasi… kita mungkin harus bertindak sebelum pertemuan,” ungkap Trump.
Trump: Militer AS Sedang Mempertimbangkan Berbagai Opsi
Dalam percakapan yang sama, Trump ditanya tentang jumlah korban jiwa di Iran, dan tindakan yang sedang dipertimbangkan AS. Dia berkata, “Kami sedang mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer sedang mempertimbangkannya, dan kami sedang melihat beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan,” katanya.
