China Tanam 66 Miliar Pohon di Gurun Taklamakan Untuk Serap Karbon

Gurun Taklamakan di China/Foto : Dok. Live Science Gurun Taklamakan di China/Foto : Dok. Live Science

China, GPriority.co.id – Menurut penelitian terbaru, China telah mengubah area Gurun Taklamakan (gurun kering) yang luas menjadi hutan. Setelah berupaya selama beberapa dekade, kini gurun tersebut menjadi penyerap karbon yang sangat besar.

Dilansir dari beberapa sumber, Gurun Taklamakan membentang seluas 337.000 kilometer persegi dan dikelilingi oleh pegunungan tinggi yang menghalangi udara lembap mencapai daerah tersebut. Hal ini membuat kondisi tersebut tidak menguntungkan bagi segala jenis vegetasi.

Namun, China memulai proyek hampir 48 tahun yang lalu untuk memperlambat penggurunan. Program Sabuk Pelindung Tiga Utara membuahkan hasil, dan gurun ini sekarang menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer daripada yang dilepaskannya.

Miliaran pohon ditanam di sekitar tepi Taklamakan sebagai bagian dari proyek ekologis tersebut. Yuk Yung, seorang profesor ilmu planet di Caltech yang juga penulis studi tersebut mengatakan kepada Live Science, ini adalah pertama kalinya mereka melihat bahwa ‘intervensi yang dipimpin manusia dapat secara efektif meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering yang paling ekstrem sekalipun.’ Pencapaian ini menunjukkan bahwa mengubah gurun menjadi penyerap karbon adalah hal yang mungkin.

Gurun Taklamakan telah lama dianggap sebagai “kekosongan biologis” karena lebih dari 95 persen wilayahnya tertutup oleh pasir yang terus bergeser. China mulai menghadapi masalah ini pada tahun 1950-an ketika negara tersebut mengalami urbanisasi besar-besaran.

Lahan alami diubah untuk menyesuaikan perubahan tersebut, yang menyebabkan gurun meluas. Hal ini menciptakan kondisi untuk lebih banyak badai pasir, yang menerbangkan tanah dan malah mengendapkan pasir.

Program Sabuk Pelindung Tiga Utara, juga dikenal sebagai “Tembok Hijau Besar,” dimulai pada tahun 1978. Program ini menargetkan penanaman miliaran pohon di sekitar tepi gurun Taklamakan dan Gobi pada tahun 2050.

Pada tahun 2024, program ini telah menanam lebih dari 66 miliar pohon di China Utara. Para peneliti mengatakan vegetasi telah menstabilkan bukit pasir dan menumbuhkan tutupan hutan di negara tersebut. Pada tahun 1949, tutupan hutan ini mencapai 10 persen dari luas wilayahnya, dan saat ini mencapai lebih dari 25 persen.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Gurun Taklamakan bertindak sebagai “penyerap” karbon yang tak terduga, dengan tutupan hijau menyerap lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskan gurun tersebut. Dengan menganalisis pengamatan lapangan selama 25 tahun, data satelit, dan model Carbon Tracker NOAA, para ilmuwan telah memetakan pergeseran signifikan dalam siklus karbon di wilayah tersebut. Mereka mempublikasikan hasilnya pada 19 Januari di jurnal PNAS.

“Berdasarkan hasil penelitian ini, Gurun Taklamakan, meskipun hanya di sekitar tepiannya, mewakili model sukses pertama yang menunjukkan kemungkinan mengubah gurun menjadi penyerap karbon,” kata Yung.

Para ilmuwan berpendapat bahwa proyek Great Green dapat menjadi model yang berharga bagi wilayah gurun lainnya di dunia. Sebagai perbandingan dengan Gurun Taklamakan yang membentang seluas 337.000 kilometer persegi, Gurun Thar di India memiliki luas 264.091 kilometer persegi.