Viral Awan Pelangi di Jonggol, Ternyata Hal Biasa dan Tak Terkait Bencana

Jonggol, Gpriority.co.id – Warga Jonggol dibuat takjub akan munculnya awan berwarna pelangi di langit cerah pada Jumat (1/5) sekitar pukul 14.00 WIB. Fenomena itu ternyata adalah hal yang biasa dan kerap terjadi di wilayah Jawa Barat serta tak ada hubungannya dengan ancaman bencana.

Munculnya awan pelangi di kawasan Jonggol sempat diabadikan warga di Jalan Jeprah saat melintas yang memicu kemacetan singkat karena banyak pengendara berhenti mengabadikan.

Awan pelangi tersebut muncul di atas Jonggol dan menyebar ke Sentul City, terlihat jelas sebagai lengkung warna-warni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu di sekitar posisi matahari. Fenomena itu berlangsung ~30 menit sebelum memudar, diikuti mendung dan hujan ringan.

BMKG dan BRIN menjelaskan hal ini iridesensi awan akibat difraksi cahaya matahari oleh tetesan air/kristal es seragam kecil (~1 mikron) di awan tipis (cirrus/altocumulus). Cahaya terbelah seperti prisma, mirip pelangi tapi dekat matahari (~10°), bukan pantulan seperti pelangi biasa.

Menurut BMKG, fenomena tersebut merupakan peristiwa optik atmosfer yang umum terjadi. Warna pelangi muncul dikarenakan interaksi cahaya matahari dengan butiran air di udara, baik sisa hujan maupun hujan yang terjadi di wilayah lain. BMKG pun menjelaskan keberadaan awan towering cumulus menutupi sebagian pelangi sehingga bentuknya tampak seperti awan berwarna. Kondisi tersebut bukan penanda langsung cuaca ekstrem, melainkan menunjukkan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan lokal di sekitar kawasan.

Awan pelangi (iridesensi awan) pernah tercatat beberapa kali di Indonesia sebelum kejadian Jonggol, Bogor, meski jarang viral karena kondisi atmosfer spesifik yang dibutuhkan.

Pada 2024 tercatat pernah muncul di Nagreg, Desa Sukaurip, Balongan, Indramayu, Jawa Barat (2020), Bandung, Jawa Barat (2021) serta pasca-gempa Malang (2021) walau tak ada hubungannya.

Fenomena di beberapa daerah itu sempat terekam kamera warga dan viral. Fenomena ini sendiri kebanyakan terjadi di Jawa Barat karena topografi pegunungan dan iklim tropis lembab mendukung pembentukan awan tipis cirrus/altocumulus.

Foto : Istimewa