Viral Wanita 7x Aborsi, Bagaimana Islam Memandang

Jakarta,GPriority.co.id – Indonesia dihebohkan dengan berita penemuan 7 janin di kotak makan dalam kamar kos-kosan di Makassar, Sulawesi Selatan. Diketahui 7 janin ini merupakan hasil aborsi dari tahun 2012 yang dilakukan sepasang kekasih karena malu memiliki anak hasil hubungan di luar pernikahan.

Tindakan seperti ini sangat dilarang dalam Islam. Menggugurkan kandungan dengan alasan dan cara apapun dalam Islam adalah haram, kecuali untuk kondisi tertentu. Itupun dengan persyaratan yang sangat ketat.

Aborsi memiliki dampak yang berbahaya bagi orang yang melakukannya, baik dari segi kesehatan maupun sosial, termasuk degradasi moral pelakunya.

Aborsi berarti gugur kandungan atau keguguran. Aborsi adalah terpancarnya embrio yang tidak mungkin lagi hidup sebelum habis bulan keempat dari kehamilan atau aborsi bisa didefinisikan pengguguran janin atau embrio setelah melebihi masa dua bulan kehamilan. Dalam bahasa Arab, istilah aborsi dikenal dengan Isqath al-Hamli atau al-Ijhad.

Mengenai aborsi, para ulama telah sepakat hukumnya adalah haram. Pendapat ini dinyatakan oleh sebagian besar fuqaha’ Malikiyyah, Imam al-Gazali, Ibn al-Jawzi, dan Ibn Hazm al-Zahiri. Pelakunya dapat dikenai sanksi yang disesuaikan dengan akibat yang ditimbulkannya.

Pendapat ini berdasarkan persamaan aborsi dengan membunuh manusia yang telah lahir ke dunia. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT melarang manusia saling membunuh, seperti dalam QS. Al Isra ayat 33, Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al Isra: 33)

Di masa Nabi SAW, seseorang yang menggugurkan kandungan wanita lainnya harus membayar diyat atau denda. Sebagaimana hadist yang diceritakan Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya:

“Sesungguhnya ada dua wanita dari Bani Hudzail, salah satu dari keduanya melempar lainnya sehingga gugur kandungannya. Maka Rasulullah memutuskan harus membayar diyat sebesar seorang budak laki-laki atau budak wanita.” (HR Bukhari – Muslim).

Namun, Islam adalah agama yang mengatur hukum secara fleksibel dan mengutamakan kebaikan untuk setiap makhluknya. Meski hukum aborsi adalah haram, ada beberapa kondisi dimana aborsi diperbolehkan.
Dalam pembagiannya, aborsi terbagi menjadi dua macam. Pertama, aborsi spontan (spontaneous aborts) atau aborsi yang tidak disengaja. Ini bisa terjadi karena penyakit, seperti penyakit syphilis,demam panas yang hebat, penyakit ginjal, TBC, kecelakaan, dan sebagainya.
Aborsi spontan oleh ulama disebut al-Isqath al-Afwi yang berarti aborsi yang dimaafkan, karena pengguguran seperti ini tidak menimbulkan akibat hukum.

Kedua, aborsi yang disengaja (abortus Provocatus). Aborsi macam kedua ini ada dua macam, yaitu aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis sebelum lahir untuk menyelamatkan jiwa ibu (Artificialis Therapicus). Di kalangan ulama, ini disebut al-Isqath al-Dharury atau al-Isqath al-‘ilaji yang berarti aborsi darurat atau aborsi pengobatan.

Lalu, pengguguran yang dilakukan tanpa indikasi medis, melainkan untuk meniadakan indikasi hubungan seks di luar pernikahan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki, disebut al-Isqath al-Ikhtiyari.

Penguguran pada kasus darurat untuk menyelamatkan nyawa sang ibu, diperbolehkan. Sebab Islam memiliki prinsip yang dijelaskan dalam kaidah ushul fiqh, bahwa “Menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya adalah wajib”.

Namun yang demikian dengan catatan bahwa pengguguran kandungan menjadi jalan terakhir yang bisa ditempuh. Jika masih ada cara lain yang dapat menyelamatkan keduanya, maka cara tersebut harus diusahakan semaksimal mungkin.

Sedangkan pada kasus kedua dari aborsi yang disengaja, yaitu penguguran yang dilakukan sebab untuk menghilangkan indikasi adanya hubungan seks di luar nikah, karena takut kesulitan secara ekonomi, maka jelas-jelas Islam melarangnya. Ini dijelaskan dalam QS. Al-Isra: 31 Allah berfirman, yang artinya:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS Al-Isra: 31)

Faktor malu menerima sanksi sosial juga tidak dibenarkan karena merupakan salah satu konsekuensi dari perzinahan. Zina jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT, seperti dalam QS. Al-Isra ayat 32, Allah berfirman, yang artinya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32)

Selain sebab hukum di atas, ada pendapat lain dari mazhab Al-Hanafiyah mengenai hukum aborsi, yakni hukum aborsi adalah boleh mutlak. Artinya apapun alasannya boleh digugurkan selama janin belum diberi ruh atau belum ada tanda-tanda kehidupan.

Selain itu, ulama yang berpendapat seperti itu adalah Al-Lakhmi dari kalangan mazhab Al-Malikiyah, yakni selama belum berusia 40 hari atau sebelum usia 120 hari. Sementara dari kalangan mazhab Asy-Syafi’iyah yang sejalan dengan pandangan itu adalah Abu Ishaq Al-Maghazi, bila janin belum berusia 40 hari maka belum bisa disebut manusia, maka hukum membunuh manusia tidak berlaku pada pelakunya.

Pendapat ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, yang artinya:

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah selama itu pula, kemudian diutuskan malaikat dan ditiupkan ruh.” (HR Bukhari-Muslim).
Berdasarkan keterangan di atas, maka hukum mengnai aborsi harus dilihat secara kontekstual. Aborsi diperbolehkan dengan sebab-sebab seperti di atas, tapi hukum aborsi menjadi “haram” jika dilakukan dengan sengaja dan tidak dalam keadaan darurat, serta jika janin sudah memiliki nyawa. (Vn)

Related posts