Jakarta, GPriority.co.id – Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok namun secara rutin menghirup asap rokok dari perokok aktif di sekitarnya.
Beberapa penelitian menyebut perokok aktif dan perokok pasif sama bahayanya. Bahkan, risikonya lebih besar perokok pasif karena menghirup asap langsung tanpa filter. Akibatnya, menyebabkan penyakit seperti paru-paru, jantung, serta gangguan pernapasan.
Meski masih jarang terdengar, perokok pasif juga berisiko besar terkena kanker timus. Penyakit ini mulai ramai terdengar usai kasus meninggalnya Nurfatiha, yang diketahui merupakan pejuang kanker timus.
Sebagaimana dilansir dari postingan akun Instagram postinc.id, perempuan yang akrab disapa Tia itu mengidap kanker timus karena menjadi perokok pasif sehari-harinya.
“Dokter aku pernah bilang, jadi perokok pasif adalah salah satu faktor terbesar aku mendapatkan kanker aku ini,” ujar Tia.
Tia diketahui masih berusia 23 tahun, namun harus tutup usia akibat menderita penyakit kanker timus. Semasa hidupnya, ia sering membagikan pengalamannya yang tengah berjuang dengan penyakit yang dideritanya tersebut.
Semasa hidup, ujarnya, ia terpaksa menjadi perokok pasif karena lingkungan. Selain jadwal kerja yang padat, lingkungan kantornya juga didominasi oleh para perokok. Tia kemudian menghembuskan nafas terakhir pada 2 Januari 2026 lalu.
Menurut dokter umum, dr. Arizal Novrianto Rachman, kanker timus adalah salah satu jenis kanker yang berasal dari organ kecil bernama timus yang terletak di dada bagian tengah, tepat di belakang tulang dada.

“Organ ini berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh, terbagi menjadi dua tipe. Yang pertama timoma, paling sering tumbuh lambat, bersifat ganas atau jarang, dan karsinoma yang lebih jarang cepat menyebar ke organ sekitar,” jelasnya.
Dokter Arizal menambahkan, gejala awal kanker timus yang paling umum terjadi adalah nyeri dan rasa sakit di dada, sesak nafas, batuk yang tidak kunjung sembuh, mudah lelah, suara serak, hingga sulit menelan.
Kendati demikian, penyebab pasti kanker timus belum diketahui dan juga masih tergolong langka. Pencegahan kanker timus pun bersifat terbatas. Namun, risikonya dapat ditekan dengan beberapa cara seperti tidak merokok dan menghindari asap rokok, menjalani pola hidup sehat, menjaga daya tahan tubuh, menghindari paparan zat berbahaya, dan segera konsultasi ke dokter apabila nyeri dada atau batuk lama takk kunjung sembuh.
