Kabid Kebudayaan Dikbud Muna Apresiasi Penemuan Cadas Tertua Oleh BRIN

Kabid Kebudayaan Dikbud Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, S.Si., M.Si., saat memberikan sambutan pada Kamis (22/1) di Gedung BRIN, Jakarta/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Kabid Kebudayaan Dikbud Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, S.Si., M.Si., saat memberikan sambutan pada Kamis (22/1) di Gedung BRIN, Jakarta/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kabid Kebudayaan Dikbud) Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Hadi Wahyudi, S.Si., M.Si., mengapreasiasi temuan cadas tertua di daerahnya.

Penemuan tersebut melibatkan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University (Australia).

Mewakili Bupati Muna, Hadi mengatakan temuan tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dijaga bersama kelestariannya.

“Kami dari pemerintah daerah Kabupaten Muna sangat berbangga dengan hasil penelitian ini. Karena tentu saja memberi kebanggaan buat kami sebagai masyarakat suku Muna, yang tentu ini adalah warisan leluhur yang akan terus kita jaga kelestariannya,” ujar Hadi dalam sambutannya pada agenda konferensi pers publikasi jurnal nature, temuan terbaru pertanggalan gambar cadas tertua di Sulawesi Bagian Tenggara, Kamis (22/1) di Gedung BRIN, Jakata.

Selanjutnya Hadi menyebut, lukisan cap tangan yang telah ada pertanggalan tersebut berada di Gua Metanduno di kawasan Liangkabori, yang saat ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi.

“Jadi di dalam kawasan Liangkabori ini ada dua situs, di dalamnya yaitu Gua Metanduno yang ada lukisan cap tangan ini, kemudian Gua Sugipatani yang ada lukisan layang-layang. Kawasan Liangkabori ini sekarang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. Semoga ke depan ini akan naik menjadi cagar budaya tingkat nasional, mungkin bahkan bisa ke UNESCO, bisa menjadi World Heritage UNESCO,” imbuh Hadi.

Selain situs-situs cagar budaya dan warisan tak benda, BRIN juga melakukan penelitian berkaitan dengan bahasa dan sastra di Kabupaten Muna, yaitu Kabhanti (pantun).

“Jadi beberapa kali memang dari BRIN melakukan penelitian di kabupaten ini, sangat kami apresiasi ya terkait dengan lukisan yang sekarang ini sudah dirilis sebagai lukisan tertua di dunia, yang lebih tua dari Maros dan beberapa pertanggalan itu kan ada beberapa lukisan di Sulawesi Tenggara, ada beberapa di kabupaten lain,” lanjutnya.

Hadi menyebut, penemuan terbaru itu menjadi tantangan yang menarik untuk pemerintah daerah ke depannya, terutama berkaitan dengan pelestarian dan perlindungan situs tersebut.

“Jadi kemarin itu dari Juru Pelihara Cagar Budaya, kami juga berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah 19, kemarin sudah dibuat pagar darurat dulu untuk melindungi lokasi ini. Karena tentu setelah ini akan meningkat pengunjung.  Maka kemudian kita antisipasi bahwa untuk menjaga situs ini harus dilakukan perlindungan,” jelasnya.

Hadi menekankan, pemerintah daerah akan mengambil langkah secepatnya untuk melakukan perlindungan terhadap situs yang ada. Ia berharap, ke depannya akan ada penelitian lanjutan. Terlebih, di Muna sendiri kaya akan aspek prasejarah atau purbakala.

“Kemudian juga harapannya beberapa situs prasejarah di Kabupaten Muna ini bisa dilakukan ekskavasi. Mungkin di lokasi yang baru ini ada di Desa Bone Kancitala, di Gua Molomba ini mungkin memenuhi syarat untuk dilakukan ekskavasi,” pungkas Hadi.