Kisah Julaybib RA: Bukti Good Looking Tak Ada Harganya di Mata Allah

Julaybib RA, sahabat Rasulullah SAW yang sering mendapat cacian dari orang-orang di sekitarnya/Foto : Dok. YouTube Grounded Moslem Julaybib RA, sahabat Rasulullah SAW yang sering mendapat cacian dari orang-orang di sekitarnya/Foto : Dok. YouTube Grounded Moslem

Jakarta, GPriority.co.id – Julaybib RA merupakan sahabat Rasulullah SAW dari kaum Ansar. Ia dikenal memiliki fisik yang kurang menarik, kerdil, tidak memiliki harta, dan tidak dikenal nasabnya. Kendati demikian, ia sangat bertaqwa kepada Allah SWT.

Julaybib RA pun sering menghabiskan waktu sendirian, karena tidak banyak orang yang ingin duduk berlama-lama dengannya. Bahkan saat ia lewat pun, orang-orang sering berbisik dan membuang muka.

Meski sering dikucilkan oleh orang-orang di sekelilingnya, Rasulullah sangat menyayangi Julaybib RA, hinga mencarikannya istri.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Wahai Julaybib, tidakkah engkau ingin menikah?”Julaybib pun tersenyum dan mengatakan, “Siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah? Aku ini tidak laku.”

Tiga kali Rasulullah bertanya kepadanya, tiga kali pula Julaybib menjawab dengan kerendahan dirinya. Hingga pada akhirnya, Rasulullah melamar seorang gadis Ansar untuk Julaybib.

“Aku ingin melamar putrimu,” ujar Rasulullah saat mendatangi rumah salah satu pemuka Ansar.

Ayah gadis itu pun dengan senang hati mengatakan,” Tentu, ini kehormatan besar!” Namun, Rasulullah langsung membantah dan menyebut, “Bukan untukku, tapi untuk Julaybib.”

Seketika, wajah sang ayah berubah. Ibunya pun menolak keras. Bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar.

“Julaybib? Demi Allah tidak! Kami sudah menolak pelamar yang lebih kaya darinya!” ungkap ibu tersebut.

Mendengar perdebatan tersebut, sang gadis yang hendak dijodohkan dengan Julaybib pun keluar dari kamarnya, dengan tegas ia mengatakan, “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah SAW? Demi Allah, Nabi tidak akan mencelakakanku. Nikahkah aku dengannya!”

Akhirnya, pernikahan pun terjadi. Namun takdir berkata lain. Belum sempat mereka menikmati manisnya malam pertama, seruan jihad berkumandang. Julaybib pun dihadapkan kepada dua pilihan. Istri cantik yang baru dinikahinya, atau panggilan Allah.

Tanpa ragu sedetik pun, Julaybib mengambil pedangnya dan meninggalkan kamar pengantinnya. Ia berlari menuju barisan depan, menyambut panggilan kekasih tertingginya, Allah SWT. Ia pun bertempur habis-habisan. Bukan kemenangan yang ia cari, melainkan tempat terbaik di sisi Rabb-nya.

Perang pun usai, dan kaum Muslimin menang. Saat mendata korban, mereka lupa pada Julaybib. Hingga akhirnya Rasulullah tersadar. Dengan suara bergetar beliau berkata, “Tetapi aku kehilangan Julaybib! carilah dia!”

Setelah mencari, beliau akhirnya menemukan Julaybib di antara tumpukan jenazah. Ia terbaring penuh luka, sementara di sekelilingnya ada 7 mayat musuh yang berhasil dia bunuh sebelum dia sendiri mati syahid.

Dengan mata berkaca-kaca, Rasulullah pun menatap wajah Julaybib, sosok yang selama ini sering dihina oleh orang-orang disekelilingnya. Kemudian, keluarlah kalimat yang menggetarkan langit dari lisan Nabi.

“Dia membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhnya. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya. Dia bagian dariku, dan aku bagian darinya,” ucap Nabi mengulangi dua kali kalimat tersebut.

Rasulullah pun membopong jenazah Julaybib dengan kedua tangannya. Tidak menggunakan keranda, atau pun kain sutra.

Kisah Julaybib cukup relate dengan realita saat ini, di mana banyak orang berbondong-bondong memperbaiki penampilannya, ketimbang akhlaknya. Padahal, di mata Allah good looking tidak ada harganya jika dibandingkan good heart. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.