Ilmuwan China Berhasil Obati Diabetes Tipe 2 Lewat Terapi Sel Punca

Ilustrasi penderita diabetes tipe 2/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi penderita diabetes tipe 2/Foto : Dok. Freepik

China, GPriority.co.id – Dalam perkembangan bersejarah, para ilmuwan China telah berhasil mengobati diabetes tipe 2 menggunakan terapi sel punca, menandai tonggak penting secara global.

Para peneliti China berhasil setelah mereka mengembangkan terapi sel punca untuk mentransplantasikan sel pankreas sehat guna meniru kerja insulin yang diatur di dalam tubuh kita.

Eksperimen ini berhasil untuk pertama kalinya, di mana pasien tidak bergantung pada insulin suntik atau obat-obatan saat mengelola kadar gula darah mereka.

Sebagai catatan, diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah.

Untuk mengelola kondisi ini, pasien sering diresepkan insulin atau obat-obatan lainnya. Namun, begitu seseorang menjadi bergantung pada insulin, akan sangat sulit untuk mengembalikan fungsi normal tubuh, dikutip dari laporan NDTV.

Dalam upaya mengobati diabetes tipe 2, para peneliti melibatkan beberapa langkah kunci. Pertama, para peneliti memperoleh sel punca baik dari pasien maupun dari donor. Sel-sel ini digunakan karena kemampuannya yang unik untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel khusus yang mampu menjalankan fungsi-fungsi tertentu.

Dalam lingkungan laboratorium, para ilmuwan memaparkan sel punca pada sinyal kimia dan genetik yang ditargetkan yang mengarahkan sel-sel tersebut untuk menjadi sel-sel pulau pankreas, khususnya sel beta, yang secara alami memproduksi insulin.

Setelah diprogram ulang, sel-sel ini dibudidayakan menjadi kelompok-kelompok yang mereplikasi struktur jaringan pankreas yang sehat. Kelompok-kelompok ini dapat mendeteksi perubahan kadar glukosa darah dan melepaskan insulin sesuai kebutuhan.

Kemudian, kelompok sel penghasil insulin ini ditransplantasikan ke dalam tubuh pasien, kemungkinan besar di bagian perut. Setelah dimasukkan, sel-sel tersebut bergabung dengan aliran darah pasien. Namun, masalah utama yang dihadapi adalah menentukan apakah sel-sel tersebut diterima atau ditolak, yang akan menentukan hasilnya.

Setelah transplantasi, sel-sel yang baru dikembangkan mulai berfungsi seperti sel beta pankreas yang sehat, mendeteksi peningkatan glukosa darah dan melepaskan insulin sesuai kebutuhan untuk menurunkan kadar gula secara alami. Akibatnya, pasien dapat mengurangi atau bahkan tidak lagi membutuhkan suntikan insulin eksternal.

Pada tahap akhir, dokter mengamati pasien dengan cermat untuk memastikan bahwa sel yang ditransplantasikan tetap hidup, terus memproduksi insulin, dan tidak menyebabkan reaksi imun atau komplikasi lainnya.

Pengobatan berbasis sel punca untuk diabetes tipe 2 merupakan bentuk pengobatan regeneratif yang berpotensi menawarkan solusi yang lebih personal dan jangka panjang untuk mengelola penyakit ini.