Awas! 2 Pola Tidur Ini Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Ilustrasi tidur saat malam hari/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi tidur saat malam hari/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa dua pola tidur yang banyak diterapkan, ternyata dapat meningkatkan risiko serangan jantung secara signifikan. Temuan ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat yang selama ini mengabaikan pola tidur sebagai faktor utama kesehatan jantung.

Dilansir dari New York Post pada Rabu (8/4), penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 orang dewasa menunjukkan bahwa kesalahan utama terletak pada waktu tidur yang tidak teratur dan durasi tidur yang kurang dari kebutuhan ideal.

1. Jadwal Tidur yang Tidak Konsisten

Kesalahan pertama adalah memiliki jadwal tidur yang tidak konsisten. Peneliti menemukan bahwa orang yang tidur pada jam berbeda setiap malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kardiovaskular. Ketidakteraturan ini mengganggu ritme sirkadian tubuh, sistem biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun.

“Temuan kami menunjukkan bahwa keteraturan waktu tidur, khususnya, mungkin penting bagi kesehatan jantung,” ujar peneliti utama, Laura Nauha.

Ia menambahkan, “Hal ini mencerminkan ritme kehidupan sehari-hari dan seberapa besar ritme tersebut berubah-ubah.”

Kesalahan kedua adalah durasi tidur yang kurang dari delapan jam per malam. Studi tersebut menunjukkan bahwa individu yang tidur kurang dari delapan jam dan memiliki jadwal tidur tidak teratur menghadapi peningkatan risiko signifikan terhadap kejadian jantung serius, termasuk serangan jantung.

2. Durasi Tidur yang Kurang Dari 8 Jam Per Malam

Kesalahan kedua adalah durasi tidur yang kurang dari delapan jam per malam. Studi tersebut menunjukkan bahwa individu yang tidur kurang dari delapan jam dan memiliki jadwal tidur tidak teratur menghadapi peningkatan risiko signifikan terhadap kejadian jantung serius, termasuk serangan jantung.

Penelitian ini bahkan menemukan bahwa kombinasi dua faktor tersebut menjadi “faktor risiko signifikan” bagi kejadian kardiovaskular besar.

Namun menariknya, peneliti juga menemukan bahwa tidur lebih dari delapan jam dapat memberikan efek perlindungan tertentu terhadap jantung, meskipun pola tidur tidak sepenuhnya teratur. Meski begitu, para ahli tetap mengingatkan bahwa tidur berlebihan juga memiliki risiko tersendiri terhadap kesehatan metabolik.

Penelitian ini menjadi yang pertama yang secara khusus memisahkan tiga variabel utama dalam tidur, yaitu waktu tidur, waktu bangun, dan titik tengah tidur. Dengan pendekatan ini, para ilmuwan dapat melihat pengaruh masing-masing faktor terhadap kesehatan jantung secara lebih akurat.

Para ahli menekankan bahwa gangguan ritme sirkadian dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, peningkatan tekanan darah, serta peradangan dalam tubuh, semua faktor yang berkontribusi terhadap penyakit jantung.

Selain itu, kurang tidur juga diketahui dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol, yang berdampak langsung pada kesehatan jantung. Bahkan, fluktuasi kecil dalam waktu tidur sekitar satu jam saja, dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang.

Studi ini juga menegaskan bahwa kualitas dan konsistensi tidur sama pentingnya dengan durasi tidur. Banyak orang beranggapan bahwa cukup tidur saja sudah cukup, padahal waktu tidur yang berubah-ubah dapat merusak keseimbangan biologis tubuh.