Bekasi, GPriority.co.id – Kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur kini tengah menjadi perhatian publik. Selain soal korbannya, kini publik dihebohkan dengan viralnya video milik Tirta Siregar, wanita yang meramal kecelakaan ular besi 6 hari sebelum insiden KRL Bekasi Timur.
Perlu diketahui, peristiwa tragis ini melibatkan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek. Tabrakan terjadi pada malam hari sekitar pukul 20.55 WIB, menyebabkan kerusakan parah terutama pada gerbong belakang KRL, termasuk gerbong khusus wanita.
Sebelumnya, dalam unggahan videonya yang kini viral, Tirta Siregar menggambarkan akan adanya kecelakaan kereta.
Ia mengatakan, “Pada hari ini 21 April 2026… saya diperdengarkan dan diperlihatkan akan ada kecelakaan ular besi, tapi boleh percaya atau tidak,” dalam pernyataannya.
Istilah “ular besi” yang digunakan merujuk pada kereta api. Pernyataan tersebut kini ramai dikaitkan dengan insiden di Bekasi Timur, terlebih karena waktu penyampaian yang berdekatan dengan kejadian nyata.
Namun, Tirta sendiri menegaskan bahwa video tersebut bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Ia justru mengajak publik untuk berdoa agar terhindar dari musibah.
Kemunculan kembali video tersebut memicu beragam respons dari masyarakat. Sebagian warganet menganggapnya sebagai kebetulan semata, sementara lainnya percaya bahwa pernyataan tersebut merupakan bentuk firasat atau intuisi.
Sementara itu, berdasarkan berbagai laporan, kecelakaan bermula dari gangguan di jalur rel akibat kendaraan yang terhambat di perlintasan. Kondisi ini membuat KRL berhenti di jalur.
Tidak lama kemudian, kereta jarak jauh yang melaju dari arah belakang tidak mampu menghindari tabrakan. Benturan keras memicu kepanikan di dalam gerbong.
“Ditabrak, panik semua orang langsung pada pecah itu semua,” ujar seorang saksi yang menggambarkan situasi saat kejadian, sebagaimana dikutip dari laporan detiknews.
Saksi lain juga menyebut bahwa dampak paling parah terjadi di bagian belakang rangkaian. Gerbong tersebut mengalami kerusakan berat hingga menyulitkan proses evakuasi korban.
