Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina Tolak Jabat Tangan Wakil Israel di Kongres FIFA ke-76

Vancouver, Gpriority.co.id – Pada Kongres FIFA ke‑76 di Vancouver, Kanada, Kamis (30/4), Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, menolak bersalaman dan berfoto bersama Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel (IFA), Basim Sheikh Suliman. Aksi itu menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam forum sepak bola dunia, menunjukkan bahwa konflik politik Palestina–Israel juga merembes ke panggung olahraga internasional.

Saat sesi penutupan Kongres, Presiden FIFA Gianni Infantino mengundang Rajoub dan Suliman ke depan panggung untuk saling bersalaman sebagai simbol rekonsiliasi dan “FIFA untuk perdamaian”. Namun, Rajoub menolak sekaligus, menolak posisi tepat di sebelah pejabat Israel.

Menurut laporan BBC dan CBC yang dikutip media, Rajoub menegaskan bahwa ia tidak bisa berjabat tangan dengan seseorang yang “mewakili pemerintahan fasis dan rasis”, serta menyebut delegasi Israel sebagai pihak yang “tidak layak menjadi mitra FIFA di ruang publik”. Gestur ini membuat Infantino terlihat canggung di hadapan ratusan delegasi dari seluruh dunia

Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) menjelaskan bahwa penolakan itu merupakan bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina di tengah agresi militer Israel di Gaza dan Tepi Barat. Dalam unggahan resmi di Instagram, PFA menulis bahwa mereka punya hak untuk bermain sepak bola, tetapi kerabat mereka di tanah air “sedang dibunuh” oleh kebijakan yang diwakili delegasi Israel.

Seorang pejabat PFA, Susan Shalabi, menambahkan: “Saya tidak bisa berjabat tangan dengan seseorang yang dibawa Israel untuk menutupi fasisme dan genosida mereka. Kami sedang menderita,” menggambarkan kedalaman luka kolektif yang melandasi sikap tegas itu.

Dalam momen yang sama, Rajoub menuntut FIFA dan badan‑badan sepak bola internasional untuk menjatuhkan sanksi kepada Israel, mengikuti langkah sejumlah negara dan organisasi olahraga yang menyerukan pemboikotan atau pengecualian Israel dari kompetisi.

Pada 2025, lembaga‑lembaga internasional, termasuk Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC), telah meminta FIFA mengevaluasi peran olahraga dalam menghadapi pelanggaran HAM di Gaza, memperkuat tekanan agar Israel diisolasi di ranah olahraga, sebagaimana pernah dialami Rusia setelah invasi Ukraina.

Respons publik bercampur. Di satu sisi, tindakan Rajoub dipuji kalangan pro‑Palestina sebagai bentuk keberanian menolak normalisasi hubungan dengan otoritas Israel yang dianggap terlibat konflik brutal. Banyak yang mengapresiasi sikapnya sebagai simbol politik yang menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar game, tetapi ruang perlawanan.

FIFA sendiri, melalui Presiden FIFA Gianni Infantino, terus menyuarakan narasi “olahraga sebagai alat perdamaian”. Namun, kejadian ini menegaskan bahwa panggung olahraga dunia tidak steril dari konflik geopolitik.

Meski insiden ini menimbulkan ketegangan, FIFA belum mengeluarkan komentar resmi yang mengecam atau menjatuhkan sanksi konkrit terhadap PFA, dan tampaknya melihatnya sebagai manifestasi konflik politik yang meluas ke forum FIFA, bukan sekadar pelanggaran etika olahraga biasa.

Jibril Rajoub dikenal sebagai tokoh politik senior Palestina yang merangkap posisi penting di dunia olahraga. Sebagai anggota Fatah, ia pernah menjabat sebagai kepala Pasukan Keamanan Preventif dan anggota Komite Sentral partai, sekaligus menjadi calon potensial pengganti Mahmoud Abbas.

Disisi olahraga, Rajoub memimpin Asosiasi Sepak Bola Palestina dan Komite Olimpiade Palestina, menjadikan sepak bola sebagai sarana diplomasi dan simbol perlawanan Palestina di kancah internasional.

Foto : Istimewa