Iran Kirim Pesan Tegas Usai Khamenei Wafat, Ancam Balas Dendam

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada 28 Februari lalu akibat serangan gabungan AS-Israel ke Teheran/Foto : Dok. AFP Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada 28 Februari lalu akibat serangan gabungan AS-Israel ke Teheran/Foto : Dok. AFP

Teheran, GPriority.co.id – Iran kembali menunjukkan sikap keras kepada Amerika Serikat dan Israel setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Di tengah prosesi pemakaman yang dihadiri jutaan pelayat, para pejabat Iran menegaskan bahwa negara itu tidak akan mundur dari prinsip-prinsipnya, sembari mengisyaratkan balasan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Khamenei serta menegaskan pentingnya Selat Hormuz dalam strategi geopolitik Teheran.

Prosesi penghormatan terakhir terhadap Khamenei berlangsung selama sepekan di sejumlah kota, termasuk Teheran, Qom, Najaf, Karbala, hingga Mashhad. Upacara tersebut bukan sekadar acara berkabung, tetapi juga menjadi simbol persatuan nasional dan perlawanan Iran terhadap tekanan Barat.

Dalam berbagai kesempatan, massa meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap pemimpin yang telah memimpin Iran selama hampir 37 tahun.

Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, melalui pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah, menegaskan bahwa kematian ayahnya tidak akan menghentikan perjuangan Republik Islam.

“Perjuangan kami akan terus berlanjut. Musuh-musuh Iran akan membayar harga atas darah para syuhada,” demikian isi pesan Mojtaba Khamenei.

Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa Iran tetap mempertahankan kebijakan konfrontatif terhadap pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam serangan yang menewaskan Ali Khamenei. Selain menegaskan ancaman balasan, Teheran juga menyoroti posisi strategis Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Menurut sejumlah analis, Iran kini memandang pengaruhnya atas Selat Hormuz sebagai aset geopolitik yang jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar pencabutan sanksi ekonomi. Pemerintah Iran diyakini akan memanfaatkan posisi strategis tersebut sebagai alat tawar dalam setiap perundingan dengan Amerika Serikat mengenai isu keamanan maupun program nuklir.

Meski tetap membuka peluang diplomasi, Iran menegaskan bahwa pembicaraan apa pun tidak akan mengurangi haknya mempertahankan kedaulatan nasional. Sejumlah pengamat menilai strategi tersebut menunjukkan bahwa Teheran berupaya memasuki era baru pasca-Khamenei dengan memadukan tekanan politik, kekuatan militer, dan diplomasi.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian dunia. Negara-negara Teluk serta komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi karena setiap eskalasi di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global dan memperburuk konflik regional yang belum sepenuhnya mereda.