Jakarta, GPriority.co.id – Demi efisiensi anggaran, kini pemerintah Vietnam melakukan reformasi besar dengan mem-PHK 100.000 PNSnya. Langkah ini diambil pemerintah Vietnam untuk meningkatkan efisiensi birokrasi dan menekan korupsi.
Selain itu, pemerintah Vietnam juga memangkas jumlah kementerian dan menjalankan kampanye anti-korupsi yang telah menyeret banyak pejabat tinggi di negara tersebut. Kendati diperkirakan menghemat Rp71,86 triliun dalam lima tahun, kebijakan tersebut langsung memicu kekhawatiran bahwa pegawai kompeten justru akan hengkang dari pemerintahan, padahal ketidakstabilan politik di Vietnam meningkat akibat banyaknya pejabat disana yang mengundurkan diri.
Disamping itu, di tengah reformasi tersebut, ekonomi Vietnam dilaporkan bertumbuh 7,1 persen pada 2024, dengan target kenaikan menjadi 8 persen pada 2025. Pemerintah Vietnam saat ini sedang berupaya beralih ke teknologi dan keberlanjutan, salah satunya melalui proyek besar seperti kereta cepat, pembangkit listrik nuklir, serta pelabuhan laut dalam.
Adapun investasi asing di Vietnam kini juga kian meningkat, meski = tantangan dalam tata kelola pemerintahan masih besar. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar tersebut dapat memicu keresahan sosial, juga menghambat ambisi Vietnam menjadi negara yang berpenghasilan tinggi pada 2045 mendatang.
Kurangi Kementerian Dari 30 Jadi 22

Sebagai informasi, sebelumnya pemerintah Vietnam juga telah melakukan berbagai langkah untuk mendukung efisiensi anggaran di negaranya. Dilaporkan pada Rabu (12/2) lalu, kementerian di Vietnam yang semula berjumlah 30, menjadi 22 kementerian.
Pemimpin tertinggi Vietnam To Lam, mengatakan jika lembaga negara tidak boleh menjadi tempat perlindungan untuk pejabat yang lemah. Ia menyebut jika langkah merupakan “revolusi” dalam pemerintahan Vietnam.
Kebijakan ini juga berdampak pada pegawai negeri, polisi, hingga militer di negara tersebut. Menurut laporan, sekitar 100.000 orang diperkirakan telah kehilangan pekerjaan atau terpaksa pensiun dini.
Begitupun pada sektor media, seorang produser TV bernama Thanh (nama samaran) mengaku kehilangan pekerjaannya dan kini banting stir menjadi sopir taksi.
Dapat menjadi insight untuk Indonesia, bahwa pemangkasan besar-besaran di Vietnam kini telah menimbulkan berbagai tantangan sosial bagi negara tersebut, walaupun kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat efisiensi pemerintahan serta ekonomi negara tersebut dalam jangka panjang.
Foto : Ilustrasi/Nikkei Asia
