Jakarta, GPriority.co.id – Gubernur BI (Bank Indonesia), Perry Wardjiyo, mengatakan jika metode pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) akan segera dapat digunakan di Jepang, Korea, hingga China.
Inovasi ini memungkinkan wisatawan dan pebisnis Indonesia untuk melakukan pembayaran langsung melalui ponsel pintar tanpa menukar rupiah dengan yen atau yuan, seperti dilansir dari CNBC Indonesia. Perluasan ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia yang lebih luas untuk pembayaran lintas negara yang lebih mudah, cepat, dan aman, dengan QRIS yang telah terintegrasi dengan Thailand, Singapura, dan Malaysia.
Dengan QRIS, pengguna cukup memindai kode QR di pedagang yang didukung, dan pembayaran langsung diproses dalam mata uang lokal mereka. Bagi warga negara Indonesia di luar negeri, sistem secara otomatis mengubah rupiah menjadi mata uang lokal berdasarkan nilai tukar waktu nyata. Hal ini menghilangkan kerepotan membawa uang tunai asing dan memberikan biaya transaksi yang lebih transparan.
Bank Indonesia mengatakan inisiatif ini juga mendukung peta jalan G20 tentang peningkatan pembayaran lintas negara dan mempromosikan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan global. Hal ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi digital Indonesia dan mendukung inklusi keuangan di tingkat internasional.
AS: QRIS Bisa Menghambat Perdagangan Global
Kendati akan mulai tersedia di beberapa negara, nyatanya penggunaan QRIS mendapat kritik dari Amerika Serikat (AS). Pemerintah negara tersebut menilai jika QRIS dapat menghambat perdagangan global karena beberapa alasan.
Kritik tersebut dimuat dalam laporan tahunan 2025 National Trade Estimate (NTE), yang secara resmi dirilis oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR). Seperti dikutip dari Laporan Perkiraan Perdagangan Nasional 2025 tentang Hambatan Perdagangan Luar Negeri AS, QRIS dinilai dapat menimbulkan kekhawatiran.
Perusahaan-perusahaan AS tidak dilibatkan dalam proses penetapan kebijakan QRIS. Oleh karenanya, mereka tidak mendapatkan informasi soal perubahan yang mungkin saja terjadi dan tidak memiliki kesempatan untuk memberikan masukan.
Selain itu, QRIS juga dikhawatirkan tidak kompatibel dengan sistem pembayaran internasional yang sudah ada. Serta berpotensi menghambat integrasi yang lancar dengan platform global.
Foto : Ilustrasi/Getty Images
