Jakarta, GPriority.co.id – Garam selama ini kerap disebut sebagai musuh kesehatan, namun menurut ahli jantung dan spesialis transplantasi jantung Dr. Dmitry Yaranov, garam tidak selalu berbahaya bagi semua orang. Penting bagi masyarakat untuk mengetahui siapa yang perlu membatasi konsumsi natrium.
Ditulis laman Hindustan Times, Sabtu (10/1), Dr. Yaranov menjelaskan, “Pada tubuh tertentu, garam bukanlah bumbu. Garam adalah bahan bakar bagi penyakit.”
Ia menekankan beberapa kelompok yang harus waspada:
Pasien gagal jantung
Kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan, memperburuk kondisi, dan meningkatkan risiko rawat inap serta menurunkan angka harapan hidup.
Pasien hipertensi resisten
Bagi mereka yang membutuhkan tiga hingga empat obat untuk mengontrol tekanan darah, garam dapat “menyabotase” efektivitas pengobatan.
Pasien penyakit ginjal kronis
Natrium dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan pengendalian volume cairan.
Pasien hipertensi portal dan sirosis hati
Kelebihan garam memperparah retensi cairan dan meningkatkan tekanan di rongga perut.
Lansia dengan kekakuan pembuluh darah
Arteri yang menua kesulitan mengatur natrium, sehingga kelebihan garam meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Namun, Dr. Yaranov menegaskan bahwa pada orang sehat, natrium sangat penting untuk fungsi tubuh, termasuk sinyal saraf, kontraksi otot, keseimbangan cairan, dan pengaturan tekanan darah.
“Garam bukanlah musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan umat manusia. Saran kesehatan yang terlalu disederhanakanlah yang melakukannya. Natrium itu penting. Saraf. Otot. Pengaturan tekanan darah. Kehidupan,” katanya.
