Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berencana mengubah hubungan perdagangan global demi keuntungan AS. Hal ini dapat memicu perang dagang dengan beberapa negara, seperti dilansir dari Reuters pada Senin (10/2).
Meski Trump tidak menyebut negara mana yang akan terdampak, tetapi ia menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengurangi defisit anggaran. Adapun rencana Trump ini mencakup kebijakan perdagangan timbal balik dan tarif balasan terhadap impor AS, yang sesuai dengan janji kampanyenya.
Lebih lanjut, Trump mengumumkan kebijakan ini saat bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba. Dalam pertemuan tersebut, keduanya juga membahas tarif otomotif. Trump mengkritik Uni Eropa atas tarif 10 persen untuk mobil impor, yang jauh lebih tinggi dari tarif AS sebesar 2,5 persen.
Nantinya, dana dari tarif ini direncanakan untuk memperpanjang pemotongan pajak 2017. Kendati demikian seorang analis memperingatkan potensi peningkatan utang nasional yang bisa mengancam stabilitas fiskal (keuangan) AS.
Donald Trump Janji Pulihkan Amerika Serikat

Sebelumnya pada saat dinyatakan menang, Donald Trump membeberkan sejumlah janjinya untuk Amerika Serikat. Satu poin pentingnya, Trump berjanji akan memulihkan Amerika Serikat lewat berbagai cara.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada jutaan warga Amerika karena telah hadir dalam jumlah yang sangat banyak dan memberikan kemenangan. Kami akan membalas budi dan melakukan pekerjaan terbaik kami. Kami akan membalikkan keadaan, dengan segala cara. Hari ini akan dikenang sebagai hari ketika rakyat Amerika kembali menguasai negara ini,” tegas Trump.
Selain perdagangan global, Trump juga ingin memprioritaskan kepentingan Amerika dan menghentikan perang di negara Paman Sam tersebut. Trump juga berjanji akan mengehtikan perang selama masa jabatannya.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rakyat Amerika atas kehormatan luar biasa karena telah terpilih menjadi presiden ke-47. Ini benar-benar akan menjadi zaman keemasan Amerika,” ujarnya.
Foto : The Times of Israel
