Jakarta, GPriority.co.id – Pantai Boom kembali disulap menjadi panggung megah bagi 1.400 penari Gandrung dalam pagelaran Gandrung Sewu 2025. Acara tahunan yang menjadi ikon budaya Banyuwangi ini kembali memukau ribuan penonton dari dalam dan luar negeri dengan tema “Selendang Sang Gandrung.”
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi atas sinergi yang terbangun dalam acara tersebut.
“Inilah refleksi betapa kuatnya sebuah sinergi ketika semua pihak bersatu. Pemerintah, masyarakat, seniman, dan pelaku usaha, bergerak bersama dengan semangat yang sama. Gandrung Sewu memberi pesan bahwa setiap keberhasilan besar selalu lahir dari kolaborasi dan kebersamaan yang tulus,” ungkap Rini dalam sambutannya, Sabtu (25/10).
Menurutnya, pelaksanaan Gandrung Sewu merupakan contoh konkret penerapan reformasi birokrasi tematik sebuah konsep birokrasi yang berfokus pada penyelesaian masalah secara langsung.
Ia menjelaskan, program tersebut mencakup berbagai aspek seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan investasi, hilirisasi industri, ketahanan pangan, serta peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.
“Gandrung Sewu menjadi langkah nyata birokrasi pemerintah untuk pengentasan kemiskinan, serta menarik investasi dengan pendekatan budaya,” kata Rini.
Rini menuturkan, Banyuwangi menjadi contoh daerah yang sukses mengubah potensi budaya menjadi daya tarik ekonomi yang kuat. Tradisi berabad-abad yang dijaga masyarakat kini memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar, seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.
“Budaya yang diwariskan dengan cinta, dikelola dengan profesional, dan dipromosikan dengan semangat gotong royong, kini menjadi sumber kebanggaan dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa Gandrung Sewu bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Gandrung Sewu merupakan strategi dalam meningkatkan pariwisata dan ekonomi melalui sanggar tari, hotel, homestay, kuliner, dan lain sebagainya,” ujar Ipuk.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor yang terjalin melalui pagelaran ini berdampak langsung terhadap penurunan angka kemiskinan di Banyuwangi. Pemerintah daerah terus berupaya menjadikan birokrasi sebagai alat yang efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi warganya.
Sebagai warisan budaya khas Suku Osing, Tari Gandrung telah mengalami transformasi besar sejak digelarnya Festival Gandrung Sewu pada 2012. Kini, tarian yang dulunya merupakan ritual syukur pascapanen itu telah diakui sebagai warisan budaya Indonesia dan menjadi daya tarik utama pariwisata Banyuwangi.
