Golongan Darah Manakah yang Paling Berisiko Terkena Kanker?

Setiap golongan darah memiliki kelebihan dan kekurangan, namun manakah yang paling berisiko terkena kanker? / Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Setiap golongan darah memiliki kelebihan dan kekurangan, namun manakah yang paling berisiko terkena kanker? / Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Meski banyak orang tak terlalu banyak memikirkan golongan darah mereka, kecuali saat membutuhkan tranfusi, namun ternyata golongan darah dapat mengungkap rahasia tentang kesehatan anda. Termasuk risiko kanker sekalipun.

Jika anda bertanya manakah golongan darah terbaik antara A, B, AB, dan O, jawabannya tidak ada yang terbaik. Namun, masing-masing golongan darah tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut ini pembahasan mendalamnya.

Golongan darah A

Menurut laporan NY Post, golongan darah A kurang rentan terhadap norovirus, sehingga kurang menarik bagi nyamuk. Kendati demikian, golongan darah A juga memiliki sisi negatif yang berkaitan dengan kadar kolesterol jahat yang lebih tinggi, sehingga dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah kardiovaskular lainnya.

Orang-orang dengan golongan darah A juga lebih mungkin mengalami stroke iskemik dini yang disebabkan oleh penyumbatan aliran darah ke otak, dan lebih sulit melawan COVID-19.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang dengan golongan darah A juga memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker lambung dan pankreas. Mereka juga cenderung lebih banyak kortisol, sehingga lebih rentan terhadap stres.

Golongan darah B

Di sisi positifnya, orang dengan golongan darah B memiliki risiko lebih rendah terkena batu ginjal dan lebih kecil kemungkinannya digigit kutu. Selain itu, golongan darah B juga dapat berfungsi sebagai pertahanan alami terhadap patogen seperti cacar dan malaria.

Orang dengan gllongan darah B juga memiliki risiko jauh lebih rendah terkena kanker lambung dan kandung kemih, dan membuat tubuh kurang ramah terhadap Helicobacter pylori, bakteri yang berhubungan dengan tukak lambung.

Kendati demikian, mereka yang memiliki golongan darah B lebih rentan terhadap infeksi tertentu seperti tuberkulosis dan kolera. Golongan darah ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan kanker pankreas. Terdapat juga prevalensi diabetes tipe 2 dna hipertensi yang lebih tinggi pada orang dengan golongan darah B, meskipun masih dalam penelitian lebih lanjut.

Golongan darah AB

Golongan darah ini disebut sebagai penerima darah universal karena aman menerima darah dari semua golongan darah yang ada. Golongan darah AB juga disebut sebagai “emas cair” di pusat-pusat trauma karena merupakan donor universal untuk plasma, yang umumnya diberikan kepada pasien trauma, luka bakar, dan syok, untuk membantu meningkatkan volume darah.

Di sisi lain, golongan darah AB juga berkaitan dengan peradangan, yang dapat berdampak buruk pada pembuluh darah. Data dari American Heart Associaton (AHA) menyebut, golongan darah A,B, dan AB, dikaitkan dengan risiko pembekuan darah berbahaya dan serangan jantung akibat penyakit arteri koroner yang lebih besar dibandingkan golongan darah O.

Selain itu, golongan darah AB juga memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker pankreas. Dalam hal fungsi kognitif, penelitian di tahun 2014 menemukan bahwa orang dengan golongan darah AB 82 persen lebih mungkin mengalami masalah memori dan berpikir yang mengarah pada demensia, dibandingkan golongan darah lainnya. Para ahli percaya bahwa peningkatan risiko ini berkaitan dengan faktor VIII yang lebih tinggi, yaitu protein pembekuan darah.

Golongan darah O

Golongan darah O adalah donor universal, artinya dapat ditranfusikan kepada siapa pun. Menurut AHA, orang dengan golongan darah O memiliki risiko terendah terkena serangan jantung dan pembekuan darah di kaki serta paru-paru.

Para peneliti menemukan bahwa orang dengan golongan darah O memiliki risiko terkena stroke 12 persen lebih rendah dibandingkan dengan golongan darah lainnya. Orang dengan golongan darah ini juga kemungkinan lebih kecil untuk tertular COVID-19 atau mengalami gejala yang parah.

Orang dengan golongan darah O umumnya memiliki lebih sedikit masalah pembekuan darah yang terkait dengan tingkat keparahan COVID-19.

Kendati demikian, orang dengan golongan O diyakini lebih rentan terhadap norovirus. Mereka juga memiliki tingkat tukak lambung yang lebih tinggi dan lebih rentan terhadap pendarahan berlebih setelah cedera atau operasi.

Terdapat pula beberapa masalah kesuburan. Selain itu, sebuah studi menunjukkan bahwa wanita dengan golongan darah O kemungkinan sulit untuk hamil karena jumlah sel telur yang lebih rendah dan kualitas sel telur yang lebih buruk.

Mereka juga lebih mungkin mengalami hipertensi akibat kehamilan serta memiliki risiko perdarahan pascapersalinan yang lebih tinggi.