Jakarta, GPriority.co.id – Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI), Levita Ginting Supit memastikan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran tak mempengaruhi bisnis waralaba terutama di tanah air.
Menurut Levita, kekhawatiran sempat muncul seiring beredarnya kabar kenaikan harga BBM yang berpotensi memicu lonjakan biaya operasional dan harga bahan baku.
“Memang kemarin agak worry dengan adanya rumors tentang bensin naik. Itu semua udah pasti kalau bensin naik, udah pasti semua akan naik gitu. Tapi dengan adanya redaman dari pemerintah, itu membuat belum ada efek. Belum ada efek terhadap bisnis waralaba,” ujarnya.
Ia menjelaskan, stabilisasi yang dilakukan pemerintah sejauh ini mampu menahan dampak langsung terhadap sektor franchise. Bahkan, aktivitas investasi masih menunjukkan tren positif, termasuk masuknya pelaku usaha dari luar negeri.
Levita menilai, minat investor yang tetap tinggi menunjukkan bahwa Indonesia masih dianggap memiliki peluang besar dalam industri waralaba.
“Tadi saya bilang, artinya apa? Mereka kan udah ngeresearch dulu. Mereka kan udah survei dulu. Artinya mereka masih melihat bahwa oportunitas itu masih besar. Sampai saat ini sih belum terjadi penurunan karena belum terlalu berdampak banget kepada bisnis waralaba,” lanjutnya.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa kenaikan harga BBM berpotensi memengaruhi harga produk, khususnya di sektor makanan dan minuman. Namun, pelaku usaha dinilai cukup adaptif dalam menyiasati kondisi tersebut.
“Misalnya harga naik. Kalau harga naik, otomatis harga makanan. Pasti harga menu-nya dia naik juga dong, makanan dia naik. Dia bisa siasatin dengan tidak menaikan harga makanan. Caranya apa? Mengecilkan porsi. Jadi masyarakat nggak terlalu menyadari bahwa harganya masih sama,” katanya.
Selain itu, pelaku usaha juga melakukan penyesuaian bahan baku untuk menjaga harga tetap kompetitif.
Tak hanya itu, penyesuaian juga dilakukan pada kualitas bahan tertentu tanpa mengubah harga jual.
“Contohnya daging juga. Mungkin dagingnya yang diingin grade-nya lebih turunin. Tapi dengan tidak berubah harga. Nah itulah salah satu contoh kreatifitas yang namanya pelaku sehawara lama. Jadi mereka tidak serta-merta panik. Nah itu saya harus naikin harga? Nggak juga,” paparnya.
Lebih lanjut, Levita menambahkan, sektor makanan dan minuman (F&B) masih menjadi primadona dalam bisnis waralaba dengan kontribusi terbesar.
“Franchise yang masih favorit dari tahun kemarin sampai sekarang kira-kira bergerak dalam bidang apa? Masih di F&B. F&B itu dia di 47 persen. Karena apa? Belanja nggak belanja, pasti makan. Nggak shopping, makan. Cuman mereka makannya sesuai dengan isi kantong mereka,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa bisnis kuliner tetap memiliki daya tahan tinggi, bahkan di tengah tekanan ekonomi global.
Selain F&B, sektor jasa juga mulai menunjukkan pertumbuhan pesat, terutama di bidang layanan kesehatan.
“Udah gitu yang kedua adalah bisnis jasa. Bisnis jasa kan sekarang klinik menjamur di dimana-mana,” ucap Levita.
